Archive | renungan RSS feed for this section

Permohonan Maaf untuk MU

18 Nov

Sudah berapa lama sejak aku menggerakkan jemari ini untuk menyapa Mu di dunia maya?

Aku pun hampir lupa. Seperti sudah terlalu lama…

Tapi, Engkau tahu kan Tuhan?! Aku mencintai Mu. Meski dengan semua khilafku…

 

Aku yang merindukan Mu dengan sesak, karena belakangan seperti gagal mengurai jarak untuk mendekati Mu…

Dirgahayu Jatinangor 16 May!

16 May
Seharusnya kita serupa air, pengembara ulung yang menyinggahi banyak tempat di muka bumi.

Jika hendak merunut ke belakang, mungkin akan ada banyak kisah yang dapat diceritakan. Ketika air datang bersama hujan, bersama embun, berlari-larian di sela-sela tanah, menguap bersama sinar mentari, mengalir deras menjadi air terjun atau melaju tenang bersama riak sungai. Begitu pun kita, sekarang coba sebutkan berapa banyak episode yang mampu kita buat selama tiga tahun ini.

Walaupun kisah-kisah ini mungkin masih dapat dihitung dengan jari tangan atau jika kurang dapat dibantu oleh jemari kaki kita. Tapi bukankah perjalanan ini tidak dihitung dari seberapa banyak kita melangkah ataupun seberapa jauh kita melaju?!

Perjalanan ini adalah sebuah proses. Untuk menghadirkan tawa walau mungkin harus diselingi air mata. Karena bukankah tawa takkan terasa bermakna tanpa air mata? Lalu jika tiba-tiba kita membentur bebatuan dan pecah terserak, percayalah genggaman tangan kita akan selalu mengikat dengan kuat. Meski mungkin genggaman itu tak lagi dapat kita lihat dengan mata telanjang.

Semestinya kita percaya, air hadir karena cinta Allah SWT pada makhluk-Nya di muka bumi. Dan semoga karena itu pula-lah kita bersatu sekarang. Paling tidak, biarkan cinta Allah SWT menaungi persaudaraan ini untuk tahun-tahun ke depan…

Pada akhirnya bulir-bulir air ini akan menemukan muaranya, ke samudera, ke lautan luas. Yang jika kau pandang dari pantai bagai himpunan air tak berbatas, menembus cakrawala bumi. Maka seperti itulah kita, melaju menuju muara… pada lautan kasih tak berbatas dari Allah SWT.

Dan semoga kita terus menjadi serupa air, yang singgah di banyak tempat dan menyejukkan lingkungan sekitar.

Terima kasih untuk tiga tahun yang begitu luar biasa dan semoga tahun-tahun berikutnya akan terus menjadi luar biasa.

Adalah ’dosa’ jika membiarkan persaudaraan ini merenggang. Selamat Ulang Tahun Jatinangor 16 May

Kepada : Tuan, Dari : Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

11 May

Kepada Tuan,

Yang mempermainkan kepingan logam mata uang dengan seenaknya. Dilempar, lalu kau tarik pelatuk pistolnya. Dor! Dan kepingan logam itu menghilang.

Untuk Tuan,

Mungkin sekeping logam tak lagi terasa berharga di matamu karena kau hidup dalam tumpukan uang kertas dengan nominal besar.

Mungkin bagimu, aku seperti membeli tiket pahala. Tiket melanglang buana ke surga dengan menjadi yang kau sebut Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Tak ada lencana atau plakat apalagi piala untuk kami. Dan percayalah, tak akan ada permintaan semacam itu keluar dari mulutku, karena baju batik dan kemeja kami terlalu lusuh untuk disematkan lencana berkilau.

Aku tak akan mengeluh. Untuk peluh dan keringat yang membanjiri tubuhku. Karena dengan inilah aku berbagi. Ketika ilmu tercipta untuk membangun negeri, bukankah sangat mulia jika kubagi ilmu ini dengan para penerus negeri?

Berkali-kali Tuan mengucapkan terima kasih untuk jasa ku. Dan yang tidak pernah Tuan tahu, aku pun menangis berkali-kali untuk rasa terima kasih itu. Bertanya-bertanya apakah rasa terima kasih itu datang dari hati dan membekas selamanya atau hanya sekelebat rangkaian dua kata yang dalam dua detik setelah pengucapan, hilang maknanya?

Tuan, aku tak akan pernah meminta pundi-pundi uang untuk memenuhi saku celanaku. Aku hanya perlu mengganti pakaian lusuh ini dengan yang baru agar mereka –muridku– sedikit menghargaiku. Aku hanya perlu menghidupi keluargaku dengan makanan yang layak dan pendidikan yang cukup untuk anak-anakku kelak. Karena bukankah anak-anak yang keluar dari rahim istriku ini juga bagian dari penerus negerimu? Bukankah mereka pun berhak mendapat pendidikan yang layak, sama seperti anak-anak Tuan yang bisa mengecap pendidikan terbaiknya tanpa kesulitan?

Tuan, apakah permintaanku terlalu berlebihan untukmu?

*****

Continue reading