Archive | mikir mode : ON RSS feed for this section

If you want to feel special, help others

3 May

Sampai beberapa menit yang lalu, saya gak pernah benar-benar yakin sama jurusan kuliah yang saya ambil. Psikologi, yang mungkin buat sebagian orang ‘sounds interesting‘. Buat saya? Menarik kok, tapi kalo boleh jujur, itu bukan jurusan yang benar-benar saya inginkan dari dulu. Saya justru tertarik sama dunia arsitektur, desain interior dan hal-hal semacam itu. Atau paling gak, saya menyadari, saya itu orang eksak yang percaya 1 + 1 = 2. Ilmu pasti, yang hanya punya dua jawaban, Benar atau Salah.

Sementara itu, di Psikologi saya mulai belajar tentang banyak kemungkinan. Tentang gak selamanya jawaban atas suatu pertanyaan hanya bisa dijawab dengan benar atau salah. Ada banyak kemungkinan mengapa orang melakukan sesuatu. Ada banyak kemungkinan respon yang dihasilkan oleh setiap orang walaupun stimulusnya sama. Tentang bagaimana kita mempersepsi sesuatu. Gak selamanya sesuatu keliatan jahat, karena mungkin jika diliat dari sudut pandang yang lain, sesuatu itu justru kelihatan gak jahat lagi.

Terkadang bahkan menjadi semacam ilmu permakluman buat saya. Saya maklum dia melakukan ini, karena ada hal-hal yang melatarbelakangi perbuatannya.

Anyway… sebenernya bukan ini yang pengen saya omongin… nyahahaha

Back to the topic…

Tapi gak ada yang kebetulan kan? Saya gak mau menyebut bahwa saya kuliah di jurusan Psikologi karena suatu kebetulan. Saya percaya ada tangan Tuhan yang mengatur semua ini dengan sangat rapi. Yang mungkin baru saya sadari dengan pasti maknanya sekarang.

Jujur, saya seneng banget dengerin temen saya curhat. Entah dengan alasan apa, tapi saya seneng bisa ngedengerin mereka. Walau mungkin saya gak bisa bantu banyak untuk permasalahan yang mereka hadapi. Dan barusan, saya tau saya lagi kacau. Semua yang ada di otak saya campur jadi satu, hati saya juga lagi gak tenang. Saya bahkan sadar banget saya sedang berada pada titik dimana saya pengen nangis. Lalu tiba-tiba ada seorang teman yang menghubungi saya dan mulai curhat. Seketika saya lupa kalo barusan saya pengen nangis, saya kacau. Yang saya pikirkan justru gimana caranya saya bisa ada buat temen saya yang sedang lagi ada masalah ini. Selesai curhat, dia bilang sama saya

“Makasih pelukannya, walaupun jauh tapi tetep berasa kasih sayangnya”

Asli, saya senyum, pengen nangis saking terharunya. Saya seneng bisa bikin temen saya merasa saya ada buat mereka. Ada perasaan yang gak bisa saya katakan, saya seneng bisa bikin orang lain merasa SEDIKIT terbantu. Ternyata ini maksud Tuhan, saya masuk jurusan yang punya banyak peluang untuk membantu orang lain (tanpa bermaksud mengdiskreditkan jurusan lain ya 🙂 ). Tuhan ingin saya merasakan kenikmatan membantu orang lain. Sekarang, saya cuman bisa berdoa, “Jangan ambil perasaan senang ini Tuhan, supaya saya selalu ingin membantu teman-teman saya dan juga orang lain“. AMIN

If you want to feel special, help others. -IWroteThisForYou-

Hello Effect

7 Aug

Ia mematut dirinya di depan kaca, merapikan kemejanya secara perlahan dan diperhatikannya dengan seksama lipatan-lipatan yang ada pada kemeja. “Jangan sampai ada yang kusut, semua harus tampak sempurna”, harapnya.

—-

Ya… sempurna…

Se-sempurna yang dapat diindera manusia.

—-

Kali ini ia mulai memegang dagunya. Halus, mulus, licin… hasil cukurannya tadi pagi. Seharusnya ini menjadi penampilannya yang paling sempurna.

Kemudian ia mulai menegakkan bahunya, memandang sosok yang terpantul di kaca dan tersenyum. Senyum penuh optimisme.

Beberapa saat kemudian ia mulai melangkahkan kakinya keluar.

—-

Ah… ternyata matahari bersinar terik, asap kendaraan terus membuat polusi, dan debu terus beterbangan.

Pikirnya, “Hancur sudah penampilan sempurnaku”. Bahunya kali ini menurun, tak setegap tadi. Tak ada lagi optimisme.

Ia salahkan Tuhan karena menciptakan matahari yang terus bersinar terik. Ia mengumpat pada manusia yang terus membuat polusi dimana-mana.

—-

Ia pikir ia mampu menciptakan kesempurnaan dalam penampilannya.

Ia pikir ia dapat menciptakan hello effect yang sangat baik.

Ia pikir ia mampu menjadi pendatang yang meninggalkan jejak yang sempurna.

—-

Tapi ia lupa satu hal. Satu hal yang seharusnya dapat menjadi kekuatannya. Sebuah senyum keikhlasan.

Ia cukur kumisnya di pagi hari, dirapikannya kemejanya dengan seksama, tapi semua dilakukannya hanya demi menarik perhatian orang lain…

—-

Tak perlulah ia persalahkan Tuhan. Karena Tuhan menciptakan matahari justru untuk menerangi jalan. Membantu untuk melihat dengan jelas.

“Tapi matahari itu bersinar terlalu terik”, protesnya. Hei, bahkan matahari terlalu bersemangat untuk membantu menerangi jalan!!! Tidakkah ia perhatikan itu?

Dan debu itu, polusi itu… selemah itukah ia? Kalah oleh debu-debu kecil.

—-

Sekarang… ia menyisir rambutnya secara perlahan dengan menggunakan jemari-jemari tangannya. Dan ia pun kembali tersenyum.

Karena, Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh (W.S. Rendra)

Mencoba Mendengar

30 Jun

I’m just a little girl caught in the middle

-Lenka, The Show-

Bayangkan lo berada di tengah-tengah, tapi bukan di pusat. Lo ada di tengah tapi bahkan gak terlibat di dalam. Lo bisa membuat semuanya jadi lebih baik tapi di saat bersamaan lo bisa merusak semua yang sudah baik dan bahkan memperparah apa yang sudah rusak. Lo pengen bertindak, tapi gak bisa… Gak boleh… Gak etis untuk bertindak. Akhirnya lo cuma bisa diam dan melihat semuanya dari luar. Melihat semuanya membaik dengan sendirinya atau bahkan rusak dengan sendirinya.

KENAPA?

Karena bahkan sebenernya, lo tidak benar2 terlibat dalam masalah tersebut. Lo tau banyak hal, tapi lo bahkan gak terlibat di dalamnya.

Pilihannya sekarang cuma dua : pura2 gak peduli atau terlibat jauh ke dalam dengan memperbaiki keadaan (ato kalo lagi apes malah memperparah keadaan).

telinga

Tapi kalo kata gw, ada pilihan yang cukup aman buat dilakukan, yaitu menjadi pendengar aktif. Bukan hanya mendengar dengan telinga, tapi juga memperhatikan, memahami dan juga mengingat. Dan mendengar itu tidak sama dengan DIAM dan juga tidak sama dengan tidak peduli.

Continue reading

Ada-Ada Aja… =)

25 Jan

Malam hari, sekitar pukul 10:30 pm, saya membaca notes dari seorang teman

(dhodo… pinjem notesny bentar yah =))


aku sepi aku terasing

aku diam aku menghilang

aku pergi aku mati


ketakutan manusia untuk menjadi sendiri. ketakutan untuk sendiri ditengah keramaian dan ketakutan untuk ditinggalkan oleh orang-orang yang selama ini membuat nyaman. ketakutan akan suatu ketidakpastian dan ketakutan akan sesuatu yang tidak nyata…


ketika saya merasa sepi maka saya merasa terasing dari keramaian di sekitar saya

ketika saya tidak bersuara dan memilh diam, maka saya menghilang dari keramaian di sekitar saya

ketika saya memutuskan untuk pergi, maka saya akan dianggap mati oleh keramaian di sekitar saya dan semakin dilupakan. maka saya semakin teralienasi dari apa yang saya yakini apa yang saya miliki apa yang saya kagumi dan dari apa yang saya harapkan akan menjadi sesuatu yang nyata…


i just wanna be someone

never be no one

Saya hanya tertegun sejenak, dan kemudian berpikir “iya banget nih, ini yg belakangan ini gw rasain”

Continue reading

*sigh*

18 Jan

Anggap kita sedang berada di dalam satu lingkaran.

Akhir2 ini saya sering sekali melihat dan mendengar banyak hal, mengenai ‘melihat keluar lingkaran’. mngutuk ini, mengutuk itu. Padahal ‘ini’ dan ‘itu’ terletak di luar lingkaran tempat kita berpijak. Namun perhatikanlah lebih dalam, masih banyak celah di dalam lingkaran yang bisa kita lihat, masi banyak lubang di dalam lingkaran. Kita kehilangan *ato justru sengaja menghilangkan?* waktu dan kesempatan untuk melihat segala hal yang ada di dalam lingkaran. Terlalu fokus untuk melihat keluar… Padahal kita berpijak d dalam lingkaran dan bukannya di luar. Salah?

Continue reading

Biarkan semua seperti seharusnya…

2 Jan

*sigh*

Saya terdiam beberapa saat

Kemudian berkata, “Hah! Selesai sudah! Biarin aja semua seperti seharusny, biarin semuanya berlangsung seperti apa adanya sekarang. Berarti gw gak perlu ngapa2in lg. Yeah!!!”

Tapi… kemudian saya berpikir kembali

“Apakah ini arti biarkan semua seperti seharusny? Diam dan tidak melakukan apa2?”

Entah mengapa tiba2 ada suara berbisik kepada saya *Bukan! Tenang saja, ini bukan cerita horror atau mistis*, suara itu berkata pada saya “Bukan seperti itu artinya”.

Saya kemudian terbangun dari posisi saya yang kebetulan saat itu sedang tidur. Saya duduk dan kemudian berpikir panjang dan lagi2 terdiam sambil sesekali terlintas dalam pikiran saya “Kenapa sih gw harus mikirin hal yang abstrak kaya gini? Mending mikirin hal laen yg lebih kongkrit”.

Tiba2 muncul lagi dalam pikiran saya, sebuah jawaban sederhana yang saya pikir semua orang juga sudah tahu.

Biarkan semua seperti seharusnya…

Dan seharusnya kita semua berusaha—untuk apapun itu—, bukanny diam dan menyerah pada smua yang terjadi.

-mulai dari titik ini sampai ke bawah, mungkin tulisan saya akan melebar2 ke topik2 lain yg mungkin tidak berhubungan dengan topik saya pada paragraf sebelumnya, tapi tolong ijinkan saya menulis apapun yg ingin saya tulis =D-

Saya lagi2 terdiam ketika saya mengetikkan sebuah kata “BERUSAHA”. Saya bertanya lagi pada diri saya sendiri, “pernahkah saya benar2 berusaha sepanjang hidup saya?”

Usaha saya artikan sebagai sebuah proses, proses yg sangat panjang tepatny, dan proses itu tidak pernah akan pernah berakir, sampai kita benar2 menghilang dari dunia ini.

Dan yang seringkali saya lupakan adalah saya selalu LUPA atau mungkin justru sengaja melupakan bahwa USAHA itu adalah PROSES dan BUKAN HASIL. Akibatnya ketika hasil yang saya peroleh tidak sesuai dengan yang saya harapkan, maka saya akan memasuki fase tidak produktif kembali dalam hidup saya. Diam dan tidak lagi berusaha. Continue reading