Archive | fiksi RSS feed for this section

Racauan Tentang Sang Putri

8 May

Jika merasa bosan, sang putri akan pergi ke telaga. Mengunjungi angsa putih yang berenang dengan liukan mempesona.

Lalu, jika hujan tiba-tiba turun dengan deras, ia akan berteduh di bawah pohon. Sesekali menari bersama hujan, hingga kelak pelangi melambaikan lengkungannya dari ujung bumi yang satu ke ujung bumi yang lain.

Sang putri, entah mencari apa. Yang pasti ia selalu berusaha melangkah kakinya pada setiap jengkal tempat yang belum pernah ia pijak. Terkadang sembari bermain dengan kelinci liar, atau memetik bunga liar yang indah dan tak berduri. Ia tak menyukai mawar. Katanya, “Duri-duri mawar akan melukaiku… dan aku tak suka melihat darah segar menetes perlahan membasahi tubuhku. Bekas lukanya, walau tak lagi menyakitkan tapi akan membuatku selalu mengingat tentang sebuah rasa sakit. Hingga bukan tidak mungkin air mataku akan kembali menetes.”

Sang putri selalu percaya, Tuhan menciptakan dua buah tangan, yang satu digunakannya untuk menolong dirinya sendiri dan yang satu lagi digunakan untuk menolong orang lain. Sang Raja selalu mengajarkannya untuk menghargai rakyat kecil. Memberikan bantuan kepada setiap orang yang membutuhkan. Ia tidak perlu menghayati kata-kata ayahnya, karena ia memang seperti terlahir sebagai penolong. Satu tangannya telah sukses digunakan untuk menolong banyak orang. Dan tangan lainnya? Sayangnya, selama ini  ia belum pernah berhasil menolong dirinya menemukan entah apa yang selama ini ia cari…

Lalu suatu hari ia tersadar… Ia mencari rumah. Tempat sang putri selalu bisa berpulang. Bukan istana yang megah, namun sepi karena semua orang terlalu sibuk mengurusi urusannya masing-masing. Maka putri menggunakan satu tangannya lagi untuk menolong dirinya sendiri mencari apa yang ia sebut sebagai “rumah”.

Dan kamu… kamu seperti bau rumah. Yang aromanya tercium hingga berkilo-kilometer jauhnya. Kamu seperti bau rumah. Seperti rasa hangat kayu yang terbakar di perapian. Seperti selimut tebal yang melindungi tubuh di musim dingin. Seperti sofa empuk yang dapat menahan lelah tubuh setelah sepanjang hari berjuang melawan dunia. Seperti air hangat untuk berendam di penghujung hari… Kamu melegakan…

Kamu Sang Bau Rumah
Sang putri mencarimu!

ps.

tulisan meracau yang gak jelas arah tujuannya, haha.

Pagi

2 Mar

Pagi kesekian tanpa suaramu menyapaku.

Mungkin aku merindukan suara pagimu. Suara saat kau baru saja terbangun dari tidur, berkombinasi dengan suara jarak jauhmu dari seberang telepon. Suara tak merdu yang kau keluarkan. Hanya lenguhan tak bermakna dan juga sapaan “Selamat pagi!”.

‘Cause I love the way you say good morning.
And you take me the way I am.

(Ingrid Michaelson – The Way I am)

Seharusnya pagi menjadi awal bagi hari yang baru. Tapi yang mungkin tak pernah kamu pahami, bagiku pagi selalu menjadi hari yang baru TANPA KEHADIRANMU.

Lalu bayangkan, pagi ini aku terbangun tanpa suaramu. Harusnya aku sudah terbiasa dengan kehilangan ini. Tapi nyatanya aku seringkali terbangun dan melongok telepon genggamku. Nihil. Tak ada pesan singkat ataupun panggilan tak terjawab darimu. Bahkan refleks-ku pun seperti berkomplot menghancurkan pagiku.

Masih sering, kubuka mataku dari tidur dan kemudian secara refleks memencet nomormu. Di tengah jalan, aku tersadar bahwa itulah hal yang tak boleh kulakukan kembali. Lalu dengan sempurna, rusaklah pagiku…

Entahlah, apa kau juga merasakan apa yang kurasakan. Ketika rutinitasmu direnggut tiba-tiba. Ketika kau tak lagi bisa melakukan apapun yang ingin kau lakukan. Kamu tahu? Rasanya tersiksa… Menahan jemariku untuk tak lagi mengirimkan pesan singkat bagimu, apalagi memencet nomer telepon genggammu untuk mendengarkan suaramu.

Nyatanya, setiap pagi aku harus berusaha memberi rentang yang sangat lebar bagi kita berdua. Rasanya? Seperti ingin berlari namun kakimu terikat dengan sangat kuat. Lalu tubuhmu dibebat dengan kain dengan sangat kencang. Sakit. Tak bisa bergerak dengan bebas.

Senja ini, aku masih saja bertanya tentang pagi-pagiku tanpamu. Ketika pagi seakan menghancurkanku dan senja justru menghadirkan rindu bagiku. Satu pertanyaan untukmu, tak dapatkah kamu kembali sejenak? Kembalikan hati yang kau bawa pergi, karena aku menjadi hampa tanpanya…

ps. baca cerita lengkapnya di http://patahan.blogspot.com

Senja

1 Mar

Tentu aku masih ingat senja itu, saat matahari mulai turun mendekap batas cakrawala dan udara dingin perlahan menusuk tubuhku. Ingatan yang menyisakan rasa getir dalam diriku sampai saat ini.

Hingga badanku menggigil, justru bukan karena udara malam yang perlahan menggelayut pada senja kita. Tapi karena inginku yang tak dikabulkan olehmu. Inginku yang terdalam walau akhirnya hanya dapat kusampaikan pada kalimat terakhir.

Mungkin yang harus kamu tahu adalah kenyataan bahwa kalimat pertama tak selamanya berarti segalanya. Sama seperti senja itu, saat aku menyuruhmu menghilang bersama angin, pergi menjauh dari kehidupanku. Kamu harus tahu, itu hanya luapan emosi sesaat. Gagasan tentang ketidakyakinan yang tiba-tiba meluap, yang seharusnya kamu tampung dan bukannya kamu biarkan tumpah hingga ke tepian.

Lalu aku berteriak padamu untuk mempertahankan semua yang kita miliki hingga detik itu. Tapi kamu tak lagi mendengar. Atau mungkin bertingkah seperti tak mendengar karena kamu menjadi terlalu sibuk pada semua hal terbaik namun menyakitkan untuk kita jalani. Tapi kamu harus tahu, inilah kalimat terakhir yang kuucapkan saat itu, saat aku ingin kamu meyakinkanku dan bukannya pergi meninggalkanku…

Tapi bisa apa aku, saat dayamu padaku seakan sudah habis. Yang aku tahu, aku menangis tanpa bisa dihentikan. Tanpa tahu, mana yang lebih menyakitkan. Menyesal karena kalimat pertamaku atau karena kamu yang melepaskan ini semua dengan mudah.

Berbulan-bulan kemudian, disinilah aku, duduk di stasiun menanti kereta pada suatu senja. Senja yang selalu mengingatkanku pada kekacauan yang kita buat, dengan memori yang terserak sempurna pada setiap sinaps yang dimiliki otakku. Berulangkali kuputuskan sambungannya. Namun selalu berakhir dengan kesia-siaan, karena aku terus mengingatmu…

ps. baca cerita lengkapnya di http://patahan.blogspot.com