Kenang yang Meng-kristal

19 Nov

Pantas saja masih terasa gelisah disini. Kalau tidak bisa dibilang sesak yang seperti menghimpit. Yang seperti memeras satu persatu bulir air agar keluar dari pelupuk mata.

Tapi katanya, ia telah menjelma menjadi sosok yang kuat sekarang. Maka meski gelisah, meski sesak, meski pedih, ia tak lagi akan menangis. Itu semacam janji pada dirinya sendiri.

Namun ternyata ini bukan tentang menjadi lebih kuat. Bukan pula tentang air mata yang diharapkan tak kembali terjatuh. Ini tentang memaafkan. Memaafkan dirinya sendiri dan juga sebait kenangan dalam memorinya. Maka, meski ia merasa telah menjejak pada yang nyata, tak lagi bergantung pada labirin kenangan yang berputar-putar, ia masih saja seperti terjebak, tanpa jalan keluar.

Ini hujan kesekian. Hujan yang tak lagi kurindukan…” Ia menyeruput coklat hangatnya hingga tetes terakhir, merapikan buku yang masih separuh lagi harus dibacanya dan kemudian pergi meninggalkan kedai di sudut jalan itu. Kali ini ia membiarkan hujan yang telah berubah menjadi gerimis menyapa perlahan tubuhnya. Ia berjalan pelan, pulang…

*****

Aku pikir ia telah menjadi kenangan yang benar-benar hanya sekedar untuk dikenang…” Ia terdiam sejenak setelah mengucapkan kalimat-kalimat tersebut. Beberapa detik kemudian ia tersenyum pada lawan bicaranya: Tuhan, yang meski tak tampak secara kasat mata ia percayai bahwa akan selalu mendengarnya.

Dan entah mengapa tengah malam itu, ia menangis tersedu-sedu, melanggar janji yang dibuatnya sendiri. Karena sesak yang berlipat-lipat. Sesak yang tak dapat ia kenali alasannya, dan sesak penyesalan. Mengapa air mata itu keluar untuk luka lama yang seharusnya telah sembuh, justru disaat ia sedang berbicara dengan Sang Pencipta. Justru disaat ia seharusnya tersungkur penuh penyesalan karena khilafnya pada Sang Pencipta… Yang selalu menyayanginya setiap putaran detik.

*****

Dan di luar, Tuhan menghujani-nya dengan kasih sayang. Ia temani tangisnya malam itu dengan bulir-bulir air dari langit. Meredam isaknya, agar tak pecah dan sampai pada yang lain. Agar tangisan yang telah lama mengkristal itu dapat cair tanpa ada yang tahu.

 

Biar hanya ia dan Tuhannya yang tahu…

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: