Mengejar Bahagia

14 Sep

Mereka bilang surga kecil itu bernama kampung halaman…

****

Ramadhan tahun ini telah berakhir, momen yang sama seperti bertahun-tahun lalu, diakhiri dengan hari kemenangan, yang seperti kebanyakan orang Indonesia menyebutnya sebagai lebaran. Saya mungkin seharusnya tidak menyebut lebaran sebagai sebuah pengakhiran, tapi justru awalan. Dengan menyelipkan banyak doa bagi keyakinan diri, agar menjadi lebih baik lagi di bulan-bulan selanjutnya.

Momen yang tidak berubah untuk menyambut lebaran, paling tidak di Indonesia, barangkali adalah mudik, pulang ke kampung halaman. Ini seperti menjadi keharusan bagi banyak orang. Berbagi bahagia dengan keluarga terdekat ataupun dengan keluarga besar yang bahkan mungkin sudah terasa kabur asal usul silsilahnya.

Saya percaya, esensi mudik lebih kepada mengejar dan berbagi bahagia. Orang menjadi rela berdesak-desakan di dalam kereta untuk bertemu dengan orang-orang yang mereka kasihi setelah berbulan-bulan terpisah oleh jarak. Tapi kemarin, saya mulai kembali mempertanyakan apa itu bahagia? Bahagia macam apa yang coba mereka kejar saat pulang ke kampung halaman?

Saya barangkali cukup beruntung, bisa pulang ke kampung halaman orang tua tanpa harus bersusah payah. Tidak seperti keluarga kecil ini yang harus pulang kampung dengan mengendarai sepeda motor. Anak mereka yang masih berusia sekitar satu tahun berada di gendongan sang ibu. Miris rasanya melihat balita-balita tersebut harus berjuang melawan udara panas dan rasa lelah karena harus menjalani beratus-ratus kilometer di atas sepeda motor. Saya percaya, orang tua mereka juga pasti tidak pernah sampai hati membiarkan tubuh-tubuh kecil itu harus menderita kelelahan dan juga kepanasan. Tapi mereka pasti akan berkata ”Apa mau dikata, uang tak lagi mencukupi untuk mudik dengan nyaman tanpa harus mengendarai sepeda motor.”

Tapi bukankah pada dasarnya yang kau inginkan adalah menyajikan bahagia bagi anak istrimu? Agar mereka dapat tersenyum di hari Lebaran? Lalu apa jadinya jika kau justru membahayakan keselamatan mereka. Seperti yang saya lihat malam kemarin. Satu keluarga kecil itu terjatuh dari sepeda motor, sang ibu tergeletak tak sadarkan diri, sementara balitanya menangis dalam pelukannya. Pria itu, sudah hampir pasti adalah sang kepala keluarga, panik mencoba membangunkan istrinya. Tapi istrinya bergeming, sementara anaknya masih saja terus menangis. Panik, sedih, kaget… Wajah pria itu memucat.

Lalu, kalau sudah seperti itu, kamu bisa apa? Bukankah seharusnya yang seperti ini masih bisa dicegah? Bukankah bahagia lebaran-mu masih dapat dikejar tanpa harus membahayakan orang-orang yang kamu kasihi? Lalu jika sudah seperti ini, apa bahagia lebaran hanya dapat ditebus dengan pulang ke kampung halaman? Bukankah pulang ke kampung halaman tidak pernah menjadi suatu keharusan?

Seperti misalnya dengan kau kirimkan doa pada keluargamu di kampung sana, sembari bersabar hingga kau bisa menebus rasa rindumu nanti, jika tabunganmu sudah mencukupi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: