Kebenaran

8 Jun

Dari sejauh ini aku berjalan, rasanya seringkali aku tergoda melihat ke belakang dan menikmati indah masa lalu meski hanya satu sesap. Tersenyum hanya untuk terluka. Bahwa yang benar adalah saat ini, bukan sebongkah cerita yang hanya dapat hidup saat kita memutar tubuh kita 180 derajat, berbalik.

Toh, nyatanya kita memang lebih suka terjebak di daerah abu-abu. Bahwa kebenaran lebih baik tersisihkan. Dan akhirnya kita memutuskan untuk hidup dalam imaji yang kita bangun sendiri. Aku harus mengatakannya, kebenaran itu kadang terlalu perih untuk terungkap. Seperti misalnya lebih baik kau tak mengetahui bahwa uang yang kau berikan kepada pengemis di ujung jalan itu ternyata hanya digunakan untuk mabuk-mabukan. Atau lebih baik kau tidak mengetahui pakan apa yang diberikan oleh peternak lele, hingga lelenya bisa tumbuh begitu besar dan tersaji di piring makan malammu saat ini.

Namun, atas nama apa aku meminta mu menutupi kebenaran yang ada?! Kemanusiaan? Paling tidak perhatikan hatiku saat kau ingin mendesahkan satu butir kalimat kebenaran?! Ah… Aku justru tampak seperti makhluk lemah yang minta dikasihani.

Rasanya kali ini aku ingin mata, telinga dan semua indera yang kupunya berkonspirasi agar berkhianat kepada tubuh ini. Hanya supaya kebenaran yang perih tak terungkap. Mustahil… Itu namanya aku memotong takdir. Jika Tuhan menciptakan seluruh indera ini dapat berfungsi dengan baik, maka mereka akan selalu menjalankan tugasnya dengan baik dan benar… Kecuali, jika aku tiba-tiba dengan gagah berani bernegosiasi kepada Tuhan meminta penyaring untuk semua inderaku agar mereka hanya mampu mengolah informasi yang tidak meninggalkan perih.

Atau berbohonglah… bungkuslah kebenaran itu dengan hal lain. Balutlah dengan kisah lain, agar tak terlalu terasa menyakitkan mendengarnya. Karena yang seperti ini akan lebih melegakan walau mungkin terasa sangat dingin…

2 Responses to “Kebenaran”

  1. shinta June 9, 2010 at 4:40 pm #

    hhmmm ga bole bohong ahhh,, lebih sakit bukan kalau tau setelah di bohongi,, tapi engtah lah,, semua akan menjadi berbeda dengan kondisi yang berbeda🙂

  2. dy June 11, 2010 at 4:04 pm #

    klo kebenarannya cuma ninggalin perih tapi ga memberikan kebaikan, kayanya mending ga tau..
    perih.. klo ga siap, ga sampe batas yg bisa dirasa, malah ngehancurin nantinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: