Archive | June, 2010

Hibernasi

24 Jun

Ada banyak hal yang berseliweran di kepala saya belakangan ini.

Mungkin saya harus berhenti menulis untuk sementara. Menenangkan diri dan menahan diri untuk menumpahkan semua yang ada di kepala saya ke dalam blog ini.

Berhenti menulis untuk sementara di blog ini. Sampai… Entah kapan…

Find Me!

20 Jun

Please find me!

Apa Mimpi Kita Masih Sama?

20 Jun

Tak ada yang baru memang. Masih sama, hanya ada larik-larik rindu disini.

Kamu, apa kabar?

Aku mulai penuh merasa asing denganmu. Padahal memori tentangmu masih kental berpadu disini. Terlalu lekat.
Entah sudah sampai dimana, tapi bukankah kita sudah terlampau jauh sekarang?
Namun masih saja selalu, setiap saat, jika lagu-lagu itu terputar, atau tempat-tempat yang kita datangi kujejakkan lagi. Kamu seketika mewarnai. Polikromatik, seperti pelangi.

Dan yang tidak kamu tahu, bauran warna-warna itu seperti memudar dengan keterasingan kita. Entahlah, mungkin duniaku menjadi monokromatik…

Padahal aku ingin bebas meruapkan semua rasa ini. Bukannya menjadi bisu, dan malah diam membiarkan jarak di antara kita terentang semakin lebar.

Berkali-kali aku berusaha memastikan, bahwa kamu memahami pertanda ini. Aku masih mengeja mimpi yang sama. Memberi ruang bagi setiap jejak langkahku agar jejak kita masih bisa saling bersisian.

Dan (masih) seringkali, aku mendapati bayanganmu memantul cukup lama di mataku. Bukan hanya sekelebat lalu hilang. Padahal semestinya yang seperti ini sudah tiada.

Atau seperti ini, aku seringkali bertanya, apa kamu masih ingat susunan kata-kata yang dulu kamu buat untuk menyatukan kita? Sebuah janji yang seperti mantra. Dan aku masih saja tersihir jika gulungan memori itu terputar kembali.

Tuhan yang tahu pasti, bait-bait rindu ini tak pernah berhenti memercik. Tanyalah padaNya…

Kamu, apa kabar?
Apa mimpi kita masih sama?

Tentang Adam dan Hawa

16 Jun

Pada anganku,
Kita menjemput peri mimpi. Katamu agar Tuhan bersedia melarungkan mimpi kita ke dalam tanganNya yang kokoh dan membentuknya menjadi nyata.

Kata Adam kepada Hawa : Malam ini aku akan menandaimu dengan rindu.

——
Dengan penuh kuasa, Tuhan berkata : “Jodoh itu seperti jalan dengan anak panah. Ikatkan dirimu bersamanya, kemudian melesatlah. Kau akan menemukannya. Segera.

Ia menganggukkan kepala. Berdiri teguh. Dan kemudian mengikatkan diri pada satu keyakinan. Hawa. Tujuannya.

—–
Hawa kepada Adam : Aku akan memenggal logika. Dan menunggu apa yang telah digariskan Tuhan, asal jiwaku. Kamu. Adam.

Aku tidak sedang memenjarakan diriku dalam lirih. Menunggumu adalah menjalani takdir. Meski kadang terpekik rasa tergesa-gesa. Aku menukik tapi Tuhan menjulurkan tanganNya, mengembalikanku dalam keseimbangan.

—–
Sebentar lagi, ‘kita’ akan mewujud. Menjelma.

Hanya tinggal menunggu waktu.
Tik. Tok. Tik. Tok.

—–
Adam kepada Hawa, Hawa kepada Adam :
Melajulah dengan lamban, samarkanlah semu, bungkam sepi. Agar kita tak hanya dapat terbang membumbung ke angkasa namun juga mendarat dengan selamat, tanpa harus mematikan hati dan meluruhkan rasa…

Kepada Tuhan :
Ijinkanlah tahun-tahun yang melukiskan keriput di wajah menandai gulungan cinta yang tak pernah habis kepadanya serta sekaligus meniupkan keindahan cinta ini untukMu…

Adam dan Hawa diturunkan di tempat yang terpisah di bumi, sampai akhirnya mereka dipertemukan kembali setelah bertahun-tahun lamanya. CMIIW

I.M.Y

13 Jun

Malam ini aku menandaimu dengan rindu.

gambar diambil dari sini

Kebenaran

8 Jun

Dari sejauh ini aku berjalan, rasanya seringkali aku tergoda melihat ke belakang dan menikmati indah masa lalu meski hanya satu sesap. Tersenyum hanya untuk terluka. Bahwa yang benar adalah saat ini, bukan sebongkah cerita yang hanya dapat hidup saat kita memutar tubuh kita 180 derajat, berbalik.

Toh, nyatanya kita memang lebih suka terjebak di daerah abu-abu. Bahwa kebenaran lebih baik tersisihkan. Dan akhirnya kita memutuskan untuk hidup dalam imaji yang kita bangun sendiri. Aku harus mengatakannya, kebenaran itu kadang terlalu perih untuk terungkap. Seperti misalnya lebih baik kau tak mengetahui bahwa uang yang kau berikan kepada pengemis di ujung jalan itu ternyata hanya digunakan untuk mabuk-mabukan. Atau lebih baik kau tidak mengetahui pakan apa yang diberikan oleh peternak lele, hingga lelenya bisa tumbuh begitu besar dan tersaji di piring makan malammu saat ini.

Namun, atas nama apa aku meminta mu menutupi kebenaran yang ada?! Kemanusiaan? Paling tidak perhatikan hatiku saat kau ingin mendesahkan satu butir kalimat kebenaran?! Ah… Aku justru tampak seperti makhluk lemah yang minta dikasihani.

Rasanya kali ini aku ingin mata, telinga dan semua indera yang kupunya berkonspirasi agar berkhianat kepada tubuh ini. Hanya supaya kebenaran yang perih tak terungkap. Mustahil… Itu namanya aku memotong takdir. Jika Tuhan menciptakan seluruh indera ini dapat berfungsi dengan baik, maka mereka akan selalu menjalankan tugasnya dengan baik dan benar… Kecuali, jika aku tiba-tiba dengan gagah berani bernegosiasi kepada Tuhan meminta penyaring untuk semua inderaku agar mereka hanya mampu mengolah informasi yang tidak meninggalkan perih.

Atau berbohonglah… bungkuslah kebenaran itu dengan hal lain. Balutlah dengan kisah lain, agar tak terlalu terasa menyakitkan mendengarnya. Karena yang seperti ini akan lebih melegakan walau mungkin terasa sangat dingin…

Tentang Sahabat

7 Jun

Bisa jadi aku sudah terjebak dalam suatu sudut yang dingin. Tanpa cahaya. Gelap. Kelam. Bahkan jika mata ini mengerjap berulang kali hanya akan menyisakan energi yang sia-sia terbuang.

Dan kemudian aku akan mengendap dalam gelap. Mencari sumber cahaya. Oh, atau mungkin aku mencari setitik hangat, agar tak terlalu mengigil di sini. Mencari cara agar tak kalah dan membeku.

Lalu ada hangat tubuh yang meraba di sekitar tanganku. Katanya dalam gelap, ”Genggamlah”. Aku mengendus hangatnya. Ia menguarkan harum musim semi yang tak mampu kutolak.

Paling tidak aku tidak sendiri disini, pikirku. Kemudian aku meraih genggamannya tanpa mampu menerka siapa sosok ini. Pentingkah untuk tahu siapa dia? Kadang kupikir, biarkan ia tersamarkan dalam gelap, supaya setiap detail dari sosoknya tak mampu kukenali dengan baik. Agar jika ia menghilang aku tak merindukan setiap inci tubuhnya.

Aku berhak untuk melindungi diriku dari ketakutan akan kehilangan. Atau mungkin sebuah ketakutan akan membebani sosoknya dengan kisah yang melulu hanya bercerita tentang aku dan hidupku. Maka seperti ada lampu merah yang mendadak muncul di hadapanku. Sebuah alarm peringatan, bahwa mungkin aku harus berhenti memberi informasi untuk setiap detail yang terjadi dalam hidupku. Bukan tak ingin, hanya takut memberatkan bahunya. Dan mencoba membungkus pahit ini dengan senyum di hadapannya. Aku (berpura-pura) baik-baik saja.

Tapi lebih sering, ketika aku kehilangan banyak kata di hadapannya, seolah tak ada lagi cerita yang sanggup dikisahkan, ia justru hadir dengan pelukan hangat. Aku tahu dari sorot matanya ia memahami bahwa diamku menyimpan banyak cerita.

Dunia baru saja mengajarkan bahwa kejujuran itu terbungkus rapi dalam setiap hangat peluknya, dalam setiap senyumnya, dalam setiap tawa yang ditawarkan dirinya untukku. Dan tidak akan pernah membutuhkan waktu yang lama hanya untuk menemukan kebenaran bahwa sosok dalam gelap itu, yang senantiasa menguarkan harum musim semi, yang menghadirkan energi begitu besar di sekelilingmu adalah seseorang yang kau sebut SAHABAT…

Sahabat yang begitu hangat dan nyaman…
Thanks for being here… 🙂