Kabut

16 May

Sore ini kabut turun lagi, dan saya terkepung oleh selaput tipisnya. Jarak pandang saya menurun. Sekali saya sibak kabutnya, dengan cepat kapas putih lembut itu melingkupi tubuh saya. Dari atas, kanan, kiri, bawah. Segala penjuru. Semakin saya berlari ketakutan, maka saya akan semakin hilang arah. Maka solusi terbaik yang (mungkin) dapat saya ambil adalah duduk diam sembari menunggu kabut menghilang esok pagi bersama terbitnya sang mentari.

Mungkin kabut tidak semenakutkan api, yang dengan daya hancurnya dalam sekejap dapat melenyapkan benda-benda di sekelilingnya menjadi butiran-butiran abu. Mungkin kabut memang tidak semenakutkan itu… Tapi bagi saya, kabut justru terasa menyesakkan karena melenyapkan saya perlahan.

Kabut. Bagi saya merupakan metafora sempurna dari kenangan. Yang akan terserak dalam sekali tebas tapi detik berikutnya dapat dengan mudah kembali berkumpul untuk menghalangi pandangan. Membuat anda menjadi lemah justru dalam detik-detik dimana anda seharusnya melangkah maju.

Tapi coba katakan, siapa yang dapat menguapkan kabut? Saya? Anda? Mereka? Nyatanya daya yang kita miliki tidak sebesar itu hingga mampu membuat kabut takluk di bawah kaki kita. Sama seperti kenangan, coba katakan siapa yang mampu menghapus kenangan? Waktu? Sayangnya waktu hanya dapat mengubah cara pandang kita mengenai kenangan. Ia akan tetap menjadi kenangan, walau waktu perlahan menyembuhkan lukanya.

Saya lelah. Entah berapa kali saya menggumamkan kata ini untuk diri saya sendiri dan bahkan kepada orang-orang terdekat saya. Sekarang anda tiba-tiba menjelma menjadi hal paling melelahkan yang pernah saya pilih untuk mengisi hari-hari saya. Tapi percayalah anda juga-lah hal yang tidak pernah saya sesali untuk mengisi hari-hari saya.

Sekarang, inilah masa-masa paling menakutkan bagi saya, ketika saya tertelan kabut ini perlahan. Dan kemudian secara perlahan saya juga terlupakan oleh anda…

What scares me the most is to be forgotten.

-Raditya Dika-

gambar diambil dari sini

One Response to “Kabut”

  1. shinta May 17, 2010 at 5:41 pm #

    baru saja, siang tadi aq bercerita tentang sebuah kenangan pada seorang kawan, betapa kenangan itu begitu dalam menoreh luka,, aq benar2 berusaha memendamnya,, padahal aq tau, seberapapun besarnya usaha ku untuk melupakannya,, aq sadar aq takkan pernah bisa,,😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: