Kepada : Tuan, Dari : Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

11 May

Kepada Tuan,

Yang mempermainkan kepingan logam mata uang dengan seenaknya. Dilempar, lalu kau tarik pelatuk pistolnya. Dor! Dan kepingan logam itu menghilang.

Untuk Tuan,

Mungkin sekeping logam tak lagi terasa berharga di matamu karena kau hidup dalam tumpukan uang kertas dengan nominal besar.

Mungkin bagimu, aku seperti membeli tiket pahala. Tiket melanglang buana ke surga dengan menjadi yang kau sebut Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Tak ada lencana atau plakat apalagi piala untuk kami. Dan percayalah, tak akan ada permintaan semacam itu keluar dari mulutku, karena baju batik dan kemeja kami terlalu lusuh untuk disematkan lencana berkilau.

Aku tak akan mengeluh. Untuk peluh dan keringat yang membanjiri tubuhku. Karena dengan inilah aku berbagi. Ketika ilmu tercipta untuk membangun negeri, bukankah sangat mulia jika kubagi ilmu ini dengan para penerus negeri?

Berkali-kali Tuan mengucapkan terima kasih untuk jasa ku. Dan yang tidak pernah Tuan tahu, aku pun menangis berkali-kali untuk rasa terima kasih itu. Bertanya-bertanya apakah rasa terima kasih itu datang dari hati dan membekas selamanya atau hanya sekelebat rangkaian dua kata yang dalam dua detik setelah pengucapan, hilang maknanya?

Tuan, aku tak akan pernah meminta pundi-pundi uang untuk memenuhi saku celanaku. Aku hanya perlu mengganti pakaian lusuh ini dengan yang baru agar mereka –muridku– sedikit menghargaiku. Aku hanya perlu menghidupi keluargaku dengan makanan yang layak dan pendidikan yang cukup untuk anak-anakku kelak. Karena bukankah anak-anak yang keluar dari rahim istriku ini juga bagian dari penerus negerimu? Bukankah mereka pun berhak mendapat pendidikan yang layak, sama seperti anak-anak Tuan yang bisa mengecap pendidikan terbaiknya tanpa kesulitan?

Tuan, apakah permintaanku terlalu berlebihan untukmu?

*****


Di Pekanbaru Ada Guru Bergaji Rp 72.000
Selasa, 11 Mei 2010 | 05:12 WIB


PEKANBARU, KOMPAS.com – Upah minimum kota Pekanbaru telah mencapai Rp 1.055.000 per bulan. Namun, saat ini masih ditemukan guru bergaji Rp 72.000 per bulan.

Guru malang itu bernama Imam Maznan Ali. Ia adalah guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Azzahidin di Jalan Hang Tuah Ujung, Tenayan Raya, Pekanbaru, Riau. Ia mengaku sudah mengajar di daerah itu sejak enam bulan lalu. Begitu dirinya menerima gaji pertama, ia mendapatkan uang sebesar Rp 144.000.

“Gaji ternyata tidak dibayarkan setiap bulan. Biasanya dirapel hingga dua bulan baru dibayarkan. Dengan demikian, gaji pertama saya Rp 144.000 untuk dua bulan mengajar,” ujarnya di Pekanbaru, Senin (10/5/2010).

Guru Al Quran dan hadis itu pada awalnya kaget. Namun, setelah diberi tahu pihak yayasan bahwa itu terjadi karena masalah keuangan yayasan, ia pun maklum. Padahal, untuk biaya transportasi, ia harus merogoh koceknya hingga Rp 250.000 per bulan. “Saya tinggal di Jalan Kereta Api, sementara sekolah berada di Jalan Hang Tuah Ujung. Kira-kira membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai di sekolah,” katanya.

Mengapa masih bertahan? Ia menjawab karena guru merupakan cita-citanya sejak kecil.

“Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, saya terpaksa cari kerjaan serabutan, termasuk menjadi penyuluh agama di lapas anak,” ujarnya.

Ia mengharapkan adanya perhatian pemerintah terhadap guru swasta. Jika dibandingkan dengan gaji guru negeri, gaji guru swasta jauh di bawah guru negeri. Ia juga menginginkan anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

Sekretaris Persatuan Guru Swasta Pekanbaru Riau (PGSPR) Sebastian Koti mengakui gaji guru swasta di Pekanbaru jauh di bawah gaji guru negeri. “Kami berharap pemerintah lebih peduli terhadap guru swasta. Beban kerja antara guru swasta dan negeri sama, yakni mendidik muridnya,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Yuzamri Yakub mengatakan, gaji guru swasta berasal dari yayasan. Sampai saat ini, yang dibantu pemerintah hanya tunjangan fungsional. Tunjangan transportasi yang selama tahun 2007 dan 2008 dinikmati guru swasta terpaksa dihapuskan disebabkan tak sesuai dengan peraturan pemerintah.

www.kompas.com

6 Responses to “Kepada : Tuan, Dari : Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”

  1. shinta May 11, 2010 at 4:00 pm #

    aduuuhhh,, miris bangett yahhh,,,
    tapi kalo di lihat di jakarta, justru gaji guru swasta sudah cukup besar dari pada guru negri bukan? aq ga tau pasti sih,, tapi yahh semoga diperhatikan kemudian,,,🙂

    btw ini mba kiki yang sama mba dibah ngisi di blog patahan?
    whhaaoooww cool,, makasi udah mampir ke blog ku ya,,,
    aq link blog mu di “visit here”

    wanna link exchange if you don’t mind🙂

    -loovveecuuppss
    shinta

    • kikidanobsesinya May 11, 2010 at 10:54 pm #

      hehe, iya bener.

      sama-sama shinta, makasih ya udah ngikutin patahan🙂

  2. dibah May 11, 2010 at 5:44 pm #

    tuan-tuan itu gak pernah berpikir, kalau guru-guru di negeri ini satu per satu menyerah dari hidup serba susah, apa jadinya?

    • kikidanobsesinya May 11, 2010 at 10:55 pm #

      mereka gak pernah memikirkan kemungkinan terburuk, yang ada di otak mereka cuma kemungkinan terbaik UNTUK MEREKA SENDIRI. miris… semoga saya gak begitu😦

  3. Exalandra May 15, 2010 at 1:02 pm #

    Ah, jadi inget guru saya di sekolah dulu. Walaupun sekolah saya sekolah swasta yang memberikan gaji lebih tinggi pada guru, tapi saya tetep merasa gaji yang mereka terima belum sebanding dengan apa yang sudah diberikan oleh mereka pada murid-muridnya.

    BTW, first visit! Nice blog. Tukeran link dooong :)))

    • kikidanobsesinya May 15, 2010 at 5:05 pm #

      oh iya… makasih sudah berkunjung🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: