Archive | May, 2010

Putar Balik

29 May

Kepalang tanggung, sudah tak ada jalan lagi untuk berputar.

Maka teruskan!

gambar diambil dari sini

Tak Terdefinisi

24 May

Seperti ada yang berkelebat, tapi kosong.

Sisanya hanya suara-suara yang mendadak sulit terdengar meski aku telah menajamkan telinga. Katanya dalam samar, ”Kali ini kau harus merabanya dengan perasaan. Buatlah definisi luka-mu lalu sembuhkan!

Dan pernahkah kamu tiba-tiba terdiam lalu merasa limbung? Sudah tak sakit lagi sekarang (Bohong!), mungkin lukanya sudah sembuh, tak berbekas… (Bohong!) Hanya saja, sekarang seperti ada lubang besar di dada. Menyerap semua rasa hingga tak teraba. Mungkin namanya hampa!

Meski mataku mengerjap berulang kali, tapi ia tak pernah mampu menarik diriku dalam nyata. Mungkin aku seperti abu-abu, seperti antara, seperti spasi, dan juga seperti jeda yang memaksa diri untuk lupa.

Seperti tak terdefinisi.

Tapi percayalah, akan selalu ada garis tawa dari bibirku. Entah untuk siapa!

Happy Birthday Little Brother :)

19 May

“Dia adik kecilku, tapi tinggi-nya kini melebihi badanku”

“Oh ya?”

“Iya. Lalu apa dia masih bisa kusebut adik kecilku?”

“Tentu saja, karena ia akan menjadi adikmu selamanya, meski ia tak kecil lagi sekarang :)”

SELAMAT ULANG TAHUN ADIKKU

semua doa terbaik untukmu…

gambar diambil dari sini

Dirgahayu Jatinangor 16 May!

16 May
Seharusnya kita serupa air, pengembara ulung yang menyinggahi banyak tempat di muka bumi.

Jika hendak merunut ke belakang, mungkin akan ada banyak kisah yang dapat diceritakan. Ketika air datang bersama hujan, bersama embun, berlari-larian di sela-sela tanah, menguap bersama sinar mentari, mengalir deras menjadi air terjun atau melaju tenang bersama riak sungai. Begitu pun kita, sekarang coba sebutkan berapa banyak episode yang mampu kita buat selama tiga tahun ini.

Walaupun kisah-kisah ini mungkin masih dapat dihitung dengan jari tangan atau jika kurang dapat dibantu oleh jemari kaki kita. Tapi bukankah perjalanan ini tidak dihitung dari seberapa banyak kita melangkah ataupun seberapa jauh kita melaju?!

Perjalanan ini adalah sebuah proses. Untuk menghadirkan tawa walau mungkin harus diselingi air mata. Karena bukankah tawa takkan terasa bermakna tanpa air mata? Lalu jika tiba-tiba kita membentur bebatuan dan pecah terserak, percayalah genggaman tangan kita akan selalu mengikat dengan kuat. Meski mungkin genggaman itu tak lagi dapat kita lihat dengan mata telanjang.

Semestinya kita percaya, air hadir karena cinta Allah SWT pada makhluk-Nya di muka bumi. Dan semoga karena itu pula-lah kita bersatu sekarang. Paling tidak, biarkan cinta Allah SWT menaungi persaudaraan ini untuk tahun-tahun ke depan…

Pada akhirnya bulir-bulir air ini akan menemukan muaranya, ke samudera, ke lautan luas. Yang jika kau pandang dari pantai bagai himpunan air tak berbatas, menembus cakrawala bumi. Maka seperti itulah kita, melaju menuju muara… pada lautan kasih tak berbatas dari Allah SWT.

Dan semoga kita terus menjadi serupa air, yang singgah di banyak tempat dan menyejukkan lingkungan sekitar.

Terima kasih untuk tiga tahun yang begitu luar biasa dan semoga tahun-tahun berikutnya akan terus menjadi luar biasa.

Adalah ’dosa’ jika membiarkan persaudaraan ini merenggang. Selamat Ulang Tahun Jatinangor 16 May

Kabut

16 May

Sore ini kabut turun lagi, dan saya terkepung oleh selaput tipisnya. Jarak pandang saya menurun. Sekali saya sibak kabutnya, dengan cepat kapas putih lembut itu melingkupi tubuh saya. Dari atas, kanan, kiri, bawah. Segala penjuru. Semakin saya berlari ketakutan, maka saya akan semakin hilang arah. Maka solusi terbaik yang (mungkin) dapat saya ambil adalah duduk diam sembari menunggu kabut menghilang esok pagi bersama terbitnya sang mentari.

Mungkin kabut tidak semenakutkan api, yang dengan daya hancurnya dalam sekejap dapat melenyapkan benda-benda di sekelilingnya menjadi butiran-butiran abu. Mungkin kabut memang tidak semenakutkan itu… Tapi bagi saya, kabut justru terasa menyesakkan karena melenyapkan saya perlahan.

Kabut. Bagi saya merupakan metafora sempurna dari kenangan. Yang akan terserak dalam sekali tebas tapi detik berikutnya dapat dengan mudah kembali berkumpul untuk menghalangi pandangan. Membuat anda menjadi lemah justru dalam detik-detik dimana anda seharusnya melangkah maju.

Tapi coba katakan, siapa yang dapat menguapkan kabut? Saya? Anda? Mereka? Nyatanya daya yang kita miliki tidak sebesar itu hingga mampu membuat kabut takluk di bawah kaki kita. Sama seperti kenangan, coba katakan siapa yang mampu menghapus kenangan? Waktu? Sayangnya waktu hanya dapat mengubah cara pandang kita mengenai kenangan. Ia akan tetap menjadi kenangan, walau waktu perlahan menyembuhkan lukanya.

Saya lelah. Entah berapa kali saya menggumamkan kata ini untuk diri saya sendiri dan bahkan kepada orang-orang terdekat saya. Sekarang anda tiba-tiba menjelma menjadi hal paling melelahkan yang pernah saya pilih untuk mengisi hari-hari saya. Tapi percayalah anda juga-lah hal yang tidak pernah saya sesali untuk mengisi hari-hari saya.

Sekarang, inilah masa-masa paling menakutkan bagi saya, ketika saya tertelan kabut ini perlahan. Dan kemudian secara perlahan saya juga terlupakan oleh anda…

What scares me the most is to be forgotten.

-Raditya Dika-

gambar diambil dari sini

Sang Penjaga

13 May

Ayahku seperti kerang.

“Oh ya? Kenapa?”

Karena ia selalu menjagaku agar nanti bisa menjadi mutiara.

gambar diambil dari sini

Hanya Jika Kau Merasa Bosan dengan Rindu Ini…

13 May

Jika malam ini kudesahkan kata rindu kepadamu, maka diam dan berhentilah berpikir. Karena rindu ini kukirimkan bukan untuk mendesak ke dalam logikamu. Aku mengirimkannya agar dapat kau sesap perlahan hingga meresap dengan sempurna ke pori-pori hatimu.

Hanya jika kau merasa bosan dengan rindu ini, maka berhentilah berhitung! Jangan kau hitung berapa kali rindu ini datang… Karena percayalah ini masih tetap rindu yang sama seperti berhari-hari yang lalu, berminggu-minggu yang lalu dan berbulan-bulan yang lalu. Rindu yang datang menghampiriku hanya untuk dirimu.

Dan inilah sebuah permintaan sederhana dariku. Jika rindu ini menghiasi kelam malamku. Ini haruslah menjadi rindu yang menghadirkan sebaris lengkung senyuman untukmu. Meski yang tersisa untukku hanyalah getir yang menghadirkan air mata.

Aku melepaskanmu untuk sebait bahagia yang kau kejar. Meski aku tak pernah tahu, mengapa bahagia-mu tak lagi kau letakkan di pangkuanku. Atau mengapa bahagia itu tak lagi bisa kita kejar bersama-sama sekarang?

Bahwa ternyata kamu mengajarkan ada banyak hal yang tak harus dipertanyakan. Termasuk mengapa rindu ini selalu datang meski aku berulang kali menolak kehadirannya. Adalah karena Tuhan selalu bekerja dengan caranya sendiri, bukan?!

Seharusnya melepasmu sama artinya dengan melepaskan diriku dari desakan kenangan. Seperti jika kulihat kau bahagia sekarang, seharusnya aku turut merasa bahagia. Tapi mengapa yang aku rasakan justru seperti tertusuk ribuan sembilu. Tepat di dadaku!

Aku rindu.