Untuk: Luka

29 Apr

Nyatanya resah itu bukanlah hitam atau putih. Ia seperti langit sore itu. Keabuan. Tanpa jingga.

Dan yang tersamarkan adalah waktu. Dalam sekejap melesat dengan kencang atau berjalan perlahan tanpa terburu.

Penantian itu hampir seperti kehampaan, jika kau tak ingin menyebutnya dengan kesia-siaan.

Retorik. Seperti tak membutuhkan jawaban. Tapi kenyataannya hati selalu menuntut satu jawaban.

Kemudian rasa sakit dapat menyeruak bersamaan. Meninggalkan luka di sekujur tubuh. Tanpa jengkal tersisa. Lalu kau pun akan terengah karena sakit yang begitu dalam.

Kau sebut ini apa? Luka akan kenangan? Atau hanya gerutu karena rasa lelah yang memuncak?

Dan kau menyuruh untuk berjalan maju, menatap esok. Tapi kemana? Deskripsi arah yang tak jelas.

Seperti sebuah perintah untuk meraba masa depan. Namun, coba katakan, siapa yang dapat menerka masa depan? Yang jelas bukan aku…

Pada akhirnya, hanya tersisa satu pesan. Atau dapat juga kau sebut dengan pengharapan. Atau asa. Atau doa. Atau pinta. Sebut dengan istilah apapun yang kau suka.

Luka, cepatlah kau mengering!

2 Responses to “Untuk: Luka”

  1. empe April 29, 2010 at 1:28 am #

    ahhhh… lagi-lagi lo ki…

    sebelas duabelas…

    • kikidanobsesinya April 29, 2010 at 9:27 pm #

      eh? kenapa mpe? kok sebelas dua belas? 8-|

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: