Cinta Sang Katak

12 Apr

Ia berudu yang jatuh cinta pada pelangi.

Selepas hujan menguyur bumi, ia akan berenang menuju permukaan kolam. Memandang ke atas, menatap ke arah pelangi. Ekornya bergerak lebih cepat dari biasanya. Di setiap sore, ia akan berbisik dan berdoa “Tuhan beri aku kaki agar dapat melompat ke arah pelangi.

Beberapa waktu berlalu, Tuhan mengabulkan doanya. Sepasang kaki kecil tumbuh menemani ekornya. Tapi ia masih belum mampu melompat, maka ia menunggu hingga kakinya benar-benar kuat. “Lihat, Tuhan tidak tidur, perlahan-lahan ia mengabulkan doaku. Tunggu aku…” ujarnya pada untaian warna-warni pelangi.

Kaki berudu menguat dan Tuhan memberikan tambahan dua lengan di bagian depan tubuhnya. Sebagai gantinya, ia harus kehilangan ekor yang selama ini menemaninya berenang di kolam. “Tuhan mengganti ekorku dengan sepasang kaki dan sepasang lengan. Dan kini aku bernapas dengan paru-paru wahai pelangi.

Berudu kini telah berubah menjadi katak. Ia melompat ke permukaan. Setiap hari dihabiskannya waktu untuk berlatih melompat. Tak dihiraukannya teman-teman katak yang mengajak bermain. Sekali waktu, pelangi muncul setelah hujan turun. Katak mencoba peruntungannya. Ia mencoba melompat setinggi yang ia bisa. Gagal. Lompatannya tidak pernah cukup tinggi untuk menggapai pelangi.

Katak tak putus asa, ia berlatih melompat semakin keras. Tanpa ia sadari, ada katak lain yang memperhatikannya melompat. Ketika kaki sang katak terkilir akibat berlatih terlalu keras, katak inilah yang merasa khawatir, membalut lukanya hingga sembuh. Tapi setelahnya, katak hanya akan mengucapkan ‘terima kasih’ dan kemudian kembali sibuk berlatih untuk menggapai pelangi. Namun, berapa kalipun mencoba, ia tak pernah sanggup menggapai pelangi.

Hingga di titik lelahnya, ia menatap kolam setelah hujan. Ada pantulan pelangi di sana. Katak berubah pikiran. Putus asa karena tak pernah sanggup melompat pada pelangi, maka ia berusaha mengejar bayang-bayang pelangi. Pantulan pelangi di kolam memang tak seindah pelangi yang asli, tapi ia replikasi sempurna dari sosok pelangi yang sebenarnya. Maka katak melompat ke arah pantulan pelangi di kolam. Tapi yang terjadi justru pantulan itu pecah hingga tak berbentuk karena tumbukan tubuh katak dengan air kolam. Pantulan pelangi menghilang.

Katak menangis, ternyata ia hanya mengejar bayang semu pelangi. Disela-sela tangisannya, tiba-tiba ada yang menghapus air matanya. Melingkarkan lengannya agar katak dapat menangis menumpahkan segala isi hatinya. Dia yang merawat kaki sang katak saat terkilir. Dia yang menjadi ‘yang tak terlihat’. Dia-lah katak lain yang jatuh cinta pada sang katak. Yang tak pernah berusaha menghentikan sang katak untuk menggapai mimpinya, meski ia jatuh cinta pada sang katak dengan segenap hatinya… Dia yang berjuang untuk kebahagiaan sang katak dalam diamnya…

Terkadang, yang kita butuhkan dalam cinta bukanlah pangeran sempurna berkuda putih. Cukuplah ia menjadi seorang ksatria asal ia mau berjuang demi kebahagiaan kita…

5 Responses to “Cinta Sang Katak”

  1. empe April 12, 2010 at 1:55 pm #

    kayaknya ada hubungannya ma post sebelumnya ki😀

    • kikidanobsesinya April 12, 2010 at 5:25 pm #

      wah, iya gitu? padahal gak ada hubungannya loh mpe… inspirasinya ada beda😀

    • kikidanobsesinya April 12, 2010 at 5:27 pm #

      eh ralat, maksudnya inspirasinya aja beda😀

  2. ca May 15, 2010 at 9:16 pm #

    tulisannya bagus-bagus deh ka

    • kikidanobsesinya May 16, 2010 at 10:30 am #

      wah, makasih ca… pengen kunjungan balik, tapi gak ada link-nya ca
      makasih ya sudah berkunjung🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: