Archive | April, 2010

Untuk: Luka

29 Apr

Nyatanya resah itu bukanlah hitam atau putih. Ia seperti langit sore itu. Keabuan. Tanpa jingga.

Dan yang tersamarkan adalah waktu. Dalam sekejap melesat dengan kencang atau berjalan perlahan tanpa terburu.

Penantian itu hampir seperti kehampaan, jika kau tak ingin menyebutnya dengan kesia-siaan.

Retorik. Seperti tak membutuhkan jawaban. Tapi kenyataannya hati selalu menuntut satu jawaban.

Kemudian rasa sakit dapat menyeruak bersamaan. Meninggalkan luka di sekujur tubuh. Tanpa jengkal tersisa. Lalu kau pun akan terengah karena sakit yang begitu dalam.

Kau sebut ini apa? Luka akan kenangan? Atau hanya gerutu karena rasa lelah yang memuncak?

Dan kau menyuruh untuk berjalan maju, menatap esok. Tapi kemana? Deskripsi arah yang tak jelas.

Seperti sebuah perintah untuk meraba masa depan. Namun, coba katakan, siapa yang dapat menerka masa depan? Yang jelas bukan aku…

Pada akhirnya, hanya tersisa satu pesan. Atau dapat juga kau sebut dengan pengharapan. Atau asa. Atau doa. Atau pinta. Sebut dengan istilah apapun yang kau suka.

Luka, cepatlah kau mengering!

Labirin Cerita

22 Apr

Untuk sepotong kata yang tak pernah selesai bercerita
Dan suara di ujung sana yang mendekap rindu

Aku tentu saja pernah tertawa, bahkan hampir menangis
Atau disela-sela diam kita
Setiap kata yang meluncur dengan riang
Atau hampir tak terkatakan, teredam isakan

Cerita ini seperti tersesat dalam labirin
Kisah yang tak lagi terkatakan
Atau seperti menulis surat dengan pena tanpa tinta
Kata yang tak mampu tertorehkan sedikitpun

Aku, tentu saja ingin berbagi
Dengan kamu…

“I’m really missing our conversations”

Simple Thing

12 Apr

This is just a simple thing from me to you.

I love you.

Cinta Sang Katak

12 Apr

Ia berudu yang jatuh cinta pada pelangi.

Selepas hujan menguyur bumi, ia akan berenang menuju permukaan kolam. Memandang ke atas, menatap ke arah pelangi. Ekornya bergerak lebih cepat dari biasanya. Di setiap sore, ia akan berbisik dan berdoa “Tuhan beri aku kaki agar dapat melompat ke arah pelangi.

Beberapa waktu berlalu, Tuhan mengabulkan doanya. Sepasang kaki kecil tumbuh menemani ekornya. Tapi ia masih belum mampu melompat, maka ia menunggu hingga kakinya benar-benar kuat. “Lihat, Tuhan tidak tidur, perlahan-lahan ia mengabulkan doaku. Tunggu aku…” ujarnya pada untaian warna-warni pelangi.

Kaki berudu menguat dan Tuhan memberikan tambahan dua lengan di bagian depan tubuhnya. Sebagai gantinya, ia harus kehilangan ekor yang selama ini menemaninya berenang di kolam. “Tuhan mengganti ekorku dengan sepasang kaki dan sepasang lengan. Dan kini aku bernapas dengan paru-paru wahai pelangi.

Berudu kini telah berubah menjadi katak. Ia melompat ke permukaan. Setiap hari dihabiskannya waktu untuk berlatih melompat. Tak dihiraukannya teman-teman katak yang mengajak bermain. Sekali waktu, pelangi muncul setelah hujan turun. Katak mencoba peruntungannya. Ia mencoba melompat setinggi yang ia bisa. Gagal. Lompatannya tidak pernah cukup tinggi untuk menggapai pelangi.

Katak tak putus asa, ia berlatih melompat semakin keras. Tanpa ia sadari, ada katak lain yang memperhatikannya melompat. Ketika kaki sang katak terkilir akibat berlatih terlalu keras, katak inilah yang merasa khawatir, membalut lukanya hingga sembuh. Tapi setelahnya, katak hanya akan mengucapkan ‘terima kasih’ dan kemudian kembali sibuk berlatih untuk menggapai pelangi. Namun, berapa kalipun mencoba, ia tak pernah sanggup menggapai pelangi.

Hingga di titik lelahnya, ia menatap kolam setelah hujan. Ada pantulan pelangi di sana. Katak berubah pikiran. Putus asa karena tak pernah sanggup melompat pada pelangi, maka ia berusaha mengejar bayang-bayang pelangi. Pantulan pelangi di kolam memang tak seindah pelangi yang asli, tapi ia replikasi sempurna dari sosok pelangi yang sebenarnya. Maka katak melompat ke arah pantulan pelangi di kolam. Tapi yang terjadi justru pantulan itu pecah hingga tak berbentuk karena tumbukan tubuh katak dengan air kolam. Pantulan pelangi menghilang.

Katak menangis, ternyata ia hanya mengejar bayang semu pelangi. Disela-sela tangisannya, tiba-tiba ada yang menghapus air matanya. Melingkarkan lengannya agar katak dapat menangis menumpahkan segala isi hatinya. Dia yang merawat kaki sang katak saat terkilir. Dia yang menjadi ‘yang tak terlihat’. Dia-lah katak lain yang jatuh cinta pada sang katak. Yang tak pernah berusaha menghentikan sang katak untuk menggapai mimpinya, meski ia jatuh cinta pada sang katak dengan segenap hatinya… Dia yang berjuang untuk kebahagiaan sang katak dalam diamnya…

Terkadang, yang kita butuhkan dalam cinta bukanlah pangeran sempurna berkuda putih. Cukuplah ia menjadi seorang ksatria asal ia mau berjuang demi kebahagiaan kita…

Sebuah Tanya

8 Apr

Aku meraba sebuah ruang kosong. Hampa. Aku mati rasa. Menyisakan begitu banyak gundah dalam setiap jengkal rasa yang ada di hatiku.

Lihat, aku juga telah berusaha membunuhmu dari hatiku. Tapi selalu kudengar gema namamu berulang kali. Setiap hari. Selama jam dinding masih terus membisikkan waktu.

Air mataku merebak. Jika teringat sepotong rindu yang harusnya sudah terlupa. Kamu. Yang meresap sempurna dalam hati dan memoriku.

Aku pernah melangkah. Dengan kaki terseok. Memandu tubuhku untuk berpaling darimu. Tapi kakiku dibebat dengan sangat kuat oleh sebait kenangan bersamamu.

Maka aku jatuh. Terduduk. Terdiam. Dan meratap dalam sebuah harap.

Takkan kuputar waktu. Atau dengan mesin waktu kembali ke masa lalu. Biarlah sedianya berjalan seperti ini. Tetap di tempatnya semula.

Hanya saja, jika kubilang aku akan menunggu, apakah nanti kau masih akan kembali?

Menitip Kata pada Pagi

6 Apr

Pagi… Lukisan langit biru

Rasanya aku seperti membungkus benderang mentari yang menghias bumi. Hangat di sekitar sini. Di antara rangkaian kata aku dan kamu yang kali ini menjelma menjadi kita.

Rasanya kita akan mampu memindahkan pesona mimpi. Terbang tergenggam dalam jemari-jemari kita. Menjadi nyata, bukan hanya sebuah angan yang mengurai terlalu banyak harap.

Mungkin kita harus menitipkan kata pada semburat sinar mentari pagi hari. Sebuah perjanjian, bahwa kita akan menjaga. Seperti orang-orangan sawah yang menjaga hijau padi hingga menguning kelak.

Atau layaknya jembatan yang saling menghubungkan. Ah, dan bukankah kita sudah saling terhubung sekarang? Dengan temali maya yang tersimpul di antara jari kelingking milik kita.

Romantisme apa yang kita bangun? Terbangun tanpa terencana. Dalam dekapan waktu yang tiba-tiba melesat tanpa bisa terkontrol. Seketika membuai kita dengan sebuah bahasa rasa yang tak perlu diterjemahkan. Biar hanya kita berdua yang tahu.

“Kamu jodohku bukan? Yang selalu kupinta memang dipilihkan Tuhan untukku.”
“Siapa?”
“Iya, kamu… Siapa lagi kalau bukan kamu yang duduk tenang di sisiku saat ini…”

ps. dibuat dalam rangka pesenan tulisan dan utang tulisan sama temen 😀

Raindrops Keep Falling on My Head Lyrics – B.J. Thomas

3 Apr

Lagu lama, tapi saya suka banget, bikin semangat dengan caranya sendiri 🙂

Raindrops Keep Falling on My Head Lyrics

– B.J. Thomas –

*****

Raindrops keep fallin’ on my head
And just like the guy whose feet are too big for his bed
Nothin’ seems to fit
Those raindrops are fallin’ on my head, they keep fallin’

So I just did me some talkin’ to the sun
And I said I didn’t like the way he got things done
Sleepin’ on the job
Those raindrops are fallin’ on my head, they keep fallin’

But there’s one thing I know
The blues they send to meet me won’t defeat me
It won’t be long till happiness steps up to greet me

Raindrops keep fallin’ on my head
But that doesn’t mean my eyes will soon be turnin’ red
Cryin’s not for me
‘Cause I’m never gonna stop the rain by complainin’
Because I’m free
Nothin’s worryin’ me

[trumpet]

It won’t be long till happiness steps up to greet me

Raindrops keep fallin’ on my head
But that doesn’t mean my eyes will soon be turnin’ red
Cryin’s not for me
‘Cause I’m never gonna stop the rain by complainin’
Because I’m free
Nothin’s worryin’ me