Tentang Perpisahan

3 Mar

Mentari sedianya selalu datang untuk menandai hari yang baru. Namun ia tetap saja mentari yang sama seperti hari kemarin, seminggu yang lalu atau bahkan seribu tahun yang lalu. Lalu mengapa hatiku tak pernah bisa menjelma menjadi mentari? Hati yang sama, namun dapat memperbarui diri setiap pagi datang.

Hei, aku tak akan serakah, meminta hati yang baru setelah hatiku hancur ditusuk beribu kali oleh dirimu. Hati yang mungkin sudah tak utuh lagi bentuknya. Aku tak akan pernah meminta hati yang baru. Aku merelakan hatiku tetap seperti ini. Toh, setiap bekas luka adalah sebuah penanda. Bahwa kau pernah jatuh, namun sanggup bangkit lagi setelahnya.

Adakalanya aku berharap tak pernah bertemu denganmu, jika tahu kau yang membuat hatiku berbunga justru membuat hatiku gersang berkepanjangan setelahnya. Tapi aku tak pernah mau hidupku digelayuti dengan penyesalan. Maka aku merelakan hidupku bertautan denganmu di masa lalu. Paling tidak, ada bunga yang pernah tumbuh subur di hatiku karenamu.

Aku juga tidak akan pernah bertanya, siapa yang merasa paling sakit karena perpisahan ini. Aku atau kamu? Karena aku tahu, ketika kita pernah memutuskan berjalan bersama. Paling tidak ada jejakku yang bersisian dengan jejak milikmu. Paling tidak rasa sakit itu kau rasakan, walau aku tak tahu berapa kadarnya. Kemudian membandingkan rasa sakit hanya akan menambah lukaku. Jika kusadari lukamu lebih besar, tentu aku akan merasa bersalah karena telah menyakitimu lebih dalam. Dan jika ternyata lukamulah lebih kecil, aku hanya akan merasa terpuruk menatap kamu yang ternyata dapat bangkit lebih cepat dari aku. Yang aku tahu, kita seharusnya sama-sama sakit karena perpisahan yang melibatkan aku dan kamu.

Dan jika kamu kini hanya menjadi kenangan untukku, aku memiliki dua pilihan. Menjadikanmu kenangan manis tak terlupakan dengan semua canda yang kita bangun bersama, dengan tawa yang kita bagi dan juga dengan cinta yang dulu seakan tak pernah mati. Atau aku menjadikanmu kenangan pahit dengan semua tangis karena perpisahan kita dan dengan semua sembilu yang menusuk hatiku.

Aku mungkin masih tak mengerti akan mengenangmu dengan tersenyum atau dengan penuh benci. Yang aku tahu, air mataku luruh sekarang, meratapi perpisahan kita. Perpisahan aku dan kamu.

Gagasan tentang perpisahan sesungguhnya sudah menyakitiku sangat dalam. Dan sekarang aku harus menjalani perpisahan ini sendirian. Dapatkah kau bayangkan bagaimana rasanya? Ya, seperti kupu-kupu tanpa sayap. Aku tak mampu terbang…

2 Responses to “Tentang Perpisahan”

  1. deye March 3, 2010 at 2:30 pm #

    kasian bgt kupu-kupunya tanpa sayap..😦

    • kikidanobsesinya March 4, 2010 at 11:42 am #

      😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: