Dialog Senja

22 Feb

Semburat jingga. Datang dengan gelap dan membawa pergi terang dengan perlahan. Ditemani suara burung yang pulang. Kembali ke sarang.

Kali ini khayalan yang datang. Mungkin tak nyata. Tentang pertemuan. Lalu tersembul sebuah senyum monolog. Aku tersenyum? Dan rasa apa ini? Harusnya ia telah lama menghilang.

Pernah terpikir, dalam sekejap. Dengan gerbong kereta reyot. Besi berderik. Aku menyusulmu. Mungkin ditambah teriakan dramatis menyuruhmu menungguku, duduk tenang disana. Tapi sisanya, aku hanya diam sekarang.

Mungkin ada kata yang berbaris dalam kalimat. Atau suara di saat tak terduga. Tapi tak pernah cukup memberi berita. Ah, mungkin aku hanya sedang tak butuh kata. Atau suara. Lalu, mana siluetmu? Yang dari kejauhan membuat seluruh inderaku bekerja tanpa diminta…

Hei, aku rindu… kapan kita bertemu?

2 Responses to “Dialog Senja”

  1. deye February 23, 2010 at 7:26 am #

    “kapan kita bertemu?”

    sedih juga…😦

    • kikidanobsesinya February 24, 2010 at 2:55 pm #

      gak sedih kok ye… kan masih ada kemungkinan buat ketemu.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: