(blushing)

13 Feb

Hei, jangan diam. Dahinya mengerut, bibirnya ditekuk. Tak ada senyuman. Satu kata pun tak terucap.

Hening lagi. Hanya suara tapak kaki beberapa orang yang menemani keheningan. Suara pelayan menanyakan pesanan di meja sebelah. Suara piring dan sendok yang berdenting di sekelilingnya.

BRAK!!!

Sakit, bekas tangannya memukul meja barusan. Ia menghela napas sejenak, kemudian mulai membuka mulutnya. Sudah cukup keheningan ini, pintanya. Wajahnya memerah menahan amarah. Aku bahkan tak tahu apa salahku hingga hanya diam ini yang tersisa, ia melanjutkan pidato singkatnya. Aku pergi sekarang, diambil semua barang miliknya dan mulai melangkah.

MAAF!!!

Kata pertama yang meluncur dari mulut pria yang selama setengah jam duduk terdiam dihadapannya. Akhirnya ia membuka suara.

Karena ini valentine. Aku benci valentine. Aku tidak butuh valentine. Valentine sama dengan keraguan. Satu hari untuk merayakan kasih sayang. Untuk memperbarui cinta. Kamu tahu? Aku bisa jatuh cinta padamu berkali-kali tanpa harus meminta bantuan pada valentine. Seperti hari kemarin dan hari-hari selanjutnya…

Satu senyuman muncul dan rona merah di pipinya tersembul…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: