Archive | February, 2010

Please Don’t Stop The Rain…

24 Feb

Rindu itu seperti saat kamu mendapati hujan turun dengan deras di luar sana tanpa tahu kapan bermula. Ketika kamu dapati tanah basah oleh air, dan jalan beraspal yang menghitam, mungkin juga bertambah licin. Lalu tiba-tiba kamu sadar, bukan hujan yang ingin kamu nikmati, tapi aroma tanah sesaat setelah hujan turun. Bau debu kering yang dibelai perlahan oleh rintik hujan.

Lalu bisa apa kamu? Jika tanah sudah terlanjur basah dan hujan tidak lagi berupa rintikan. Kamu pejamkan mata. Kemudian mulai membayangkan menghirup aroma tanah saat hujan turun. Tapi kamu tahu, yang kamu hirup sekarang bukanlah aroma tanah, tetapi aroma hujan.

Hujan memang tak mampu membantu mendekap apa yang kamu inginkan. Bahkan jika kamu pejamkan mata sekalipun, terbang dengan khayalan. Tapi bukankah masih ada suara rintiknya yang mengingatkan kamu pada satu rindu? Saat kamu sedang menghirup aroma tanah setelah hujan sembari menikmati suara rintikannya yang merdu.

Lalu bisa apa aku jika rindu datang saat hujan  sudah terlanjur turun?

Mungkin duduk tenang di pinggir jendela menikmati rintik hujan, memandang daun yang melambai-lambai karena tertimpa butiran air, segelas coklat hangat dan bayangan tentang kamu… Iya… aku rindu padamu. Semoga kamu juga… 🙂

ps. ditulis sambil ngedengerin lagu Waiting in Vain – MYMP dan True Love Ways – Buddy Holly *sedaaaaaappppp*

Advertisements

Chit Chat

23 Feb

Si Ayah : “Pinjem flashdisk kamu dong sebentar.

Si Anak : (menyodorkan flashdisk) “Tutupnya jangan diilangin loh.

Si Ayah : “Oke, tutupnya gak boleh ilang. Tapi berarti flashdisknya boleh ilang dong?

Si Anak : “………………………………”

Dialog Senja

22 Feb

Semburat jingga. Datang dengan gelap dan membawa pergi terang dengan perlahan. Ditemani suara burung yang pulang. Kembali ke sarang.

Kali ini khayalan yang datang. Mungkin tak nyata. Tentang pertemuan. Lalu tersembul sebuah senyum monolog. Aku tersenyum? Dan rasa apa ini? Harusnya ia telah lama menghilang.

Pernah terpikir, dalam sekejap. Dengan gerbong kereta reyot. Besi berderik. Aku menyusulmu. Mungkin ditambah teriakan dramatis menyuruhmu menungguku, duduk tenang disana. Tapi sisanya, aku hanya diam sekarang.

Mungkin ada kata yang berbaris dalam kalimat. Atau suara di saat tak terduga. Tapi tak pernah cukup memberi berita. Ah, mungkin aku hanya sedang tak butuh kata. Atau suara. Lalu, mana siluetmu? Yang dari kejauhan membuat seluruh inderaku bekerja tanpa diminta…

Hei, aku rindu… kapan kita bertemu?

Mati Kau!

21 Feb

Nguuuuunnngggg…

HAP!

ditangkap dengan satu tangan

PROK!

kali ini dengan dua tangan

Nguuuuunnngggg… hinggap di meja, lalu…

BRAK!

satu pukulan ke atas meja

PRANG!

dilempar piring

DOR!

ditembak pistol

peluru meleset

ia kembali terbang, bebas, mengangkasa!

ps. hanya fiksi belaka

Sssttt!

20 Feb

seperti musik tanpa suara dan cerita tanpa kata…


“simfoni penuh nada ini, kita nikmati saja berdua?”




Tentang Kehilangan

19 Feb

Ini memang tentang kehilangan, tapi bukan tentang ketiadaan. Sayang, ingat siang itu? Saat kau datang dengan seragam merah putih namun tanpa tawa dan teriakan mencari ibu seperti yang biasa kau lakukan setiap pulang sekolah? Matamu sembab, pipi yang basah oleh air mata, dan ingus yang berkali-kali ingin keluar namun selalu kau tarik kembali. Isakan pertamamu… karena kehilangan.

Ini memang tentang kehilangan, tapi bukan tentang ketiadaan. Saat kamu baca surat ini, Ibu yakin kamu sudah lebih dewasa. Dan mungkin kamu sudah bebal dengan berbagai kehilangan, sudah menjadi lebih kuat, tak ada lagi tangisan seperti saat itu. Mungkin pula kau sudah terbiasa dengan segala hal yang datang dan pergi dalam hidupmu…

Sayang… Ini memang tentang kehilangan, tapi bukan tentang ketiadaan. Bertahun-tahun yang lalu Ibu mengganti tempat pensilmu dengan yang lebih baru, dan lebih bagus. Tapi tahukah kamu? Jika kamu pahami lebih seksama sekarang, Ibu tidak menggantinya. Ibu menambah jumlah tempat pensil yang kau miliki. Tempat pensil pertamamu itu memang hilang, tak lagi dapat kau lihat, sentuh ataupun raba. Tapi tahukah kamu, ia tetap ada, entah dimana, disuatu tempat di dunia ini hingga saat ini. Bahkan jika ia hanya tersisa menjadi partikel-partikel kecil yang tak dapat kau kenali, bahkan jika ia berubah menjadi hal lain karena proses daur ulang… Ia akan tetap ada.

Sayang, ada banyak hal yang menghilang dalam kehidupan ini, tapi menghilang tidak sama dengan tiada. Mungkin ada banyak hal yang tak lagi dapat kau lihat, kau dengar, kau sentuh ataupun kau raba. Tapi ia akan selalu ada, entah dimana… Tak usah kau cari dimana dia bersembunyi. Tak usah kau cari kemana ia menghilang, karena ia akan selalu ada…
Tersimpan di otakmu sebagai kenangan dan menempati satu sudut di hatimu hingga ada kalanya membangkitkan rasa-rasa tertentu pada dirimu.

peluk cium,

Ibu

PS. menyambut postingan mbak dibah yang ini dan terinspirasi sama istilah ini; Object Permanence (istilah yang digunakan dalam teori perkembangan kognitif Piaget); pemahaman bahwa objek atau kejadian akan terus ada, bahkan jika hal tersebut tidak dapat dilihat, didengar ataupun disentuh. 🙂

JAKARTA

18 Feb

Pergilah ke Jakarta.

Maka dua kali kau akan terpana, oleh siluet kaki jenjang pemakai sepatu hak tinggi dan  tubuh ringkih pria penjual rokok di lampu merah…

Malam hari. Bus TransJakarta. Gemerlap lampu di kanan kiri. Seperti biasa saya duduk memandang keluar. Kota ini tak pernah beristirahat. Mungkin juga tak akan pernah lelah. Saya menghela napas, lelah dan semenit kemudian tertidur sejenak sebelum sampai di shelter tujuan.

Jangan ingatkan saya karena telah melewatkan banyak hal dalam tidur singkat saya. Tapi saya terlalu lelah hari ini. Memejamkan mata sejenak menjadi satu-satunya hal istimewa yang bisa saya nikmati hari ini.

Tak berapa lama kaki saya sudah menjejak di shelter tujuan. Kaki yang berhasil menopang tubuh lelah ini dengan sempurna. Masih panjang perjalanan malam ini. Satu batang rokok mungkin cukup untuk menemani. Sial! Ternyata ketinggalan di meja kantor. Saya tengok kanan kiri, mencari penjual rokok keliling yang biasa berkeliaran. Nihil… saya alihkan pandangan saya pada jam tangan pemberian ibu saat saya pertama kali diterima kerja dulu. Pukul 20.29 WIB. Ah, belum terlalu malam. Saya langkahkan kaki menuju kedai kopi kecil di sudut jalan itu.

Saya pilih tempat duduk paling sudut. Sedang tak ingin bersosialisasi. Tak berapa lama saya sudah larut dalam kegiatan menghisap rokok sambil sesekali menyesap kopi panas yang saya pesan. Kental, hitam, pahit. Sementara itu suara musik dangdut dari radio mengalun lamat-lamat. Saya termenung. Saya pandangi jalanan. Tak pernah sepi. Saya memandang gedung-gedung tinggi, masih ada kehidupan. Bahkan setelah rutinitas pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, gedung-gedung itu tetap menghembuskan hawa kehidupan di malam hari. Satu pertanyaan melintas dalam benak saya :

Dan tidakkah kota ini pernah merasa lelah?

Deg! Seperti ada yang memukul ulu hati saya. Pertanyaan yang sama seharusnya saya tanyakan untuk diri saya sendiri. Dan tidakkah saya merasa lelah? Tenggelam dalam penantian bertahun-tahun. Dan tidakkah hati ini lelah menunggunya dalam ketidakpastian? Saya keluarkan rokok kedua. Api mulai menyulut ujung rokok. Saya hisap rokok secara perlahan. Asapnya saya hembuskan ke udara. Kembali saya arahkan pandangan ke jalanan dan mencoba kembali tenggelam bersama hiruk pikuk kota Jakarta di malam hari. Suara kendaraan, gemerlap lampu kota, pengamen di lampu merah dan segelas kopi di atas meja reyot di hadapan saya.

Ah, persetan dengan penantian… Saya akan tetap menunggunya, sampai tak ada lagi lampu berkelip di kota ini. Ah… JAKARTA!!!