Jangan Pernah Mengetuk, Jika Kamu Tidak Pernah Benar-Benar Ingin Masuk

16 Jan

Mari kita bicara baik-baik…
Tenang, takkan ada teriakan, apalagi makian yang terlontar dari mulutku untuk dirimu.
Aku hanya ingin bicara, menjelaskan satu hal padamu.
Hal yang tampaknya tidak pernah berhasil kamu pahami dengan baik…

Aku hanya ingin memperkenalkan hatiku.
Hati yang sudah kamu kenal dengan sangat baik. Namun tak pernah berhasil kamu pahami dengan sempurna. Mari kita mulai dengan perkenalan awal.

Ini hatiku, mungkin tak bisa kamu lihat dengan kasat mata. Tapi kamu tahu pasti, aku memiliki hati. Sama seperti kamu… Kamu mengangguk?! Aku anggap kamu mengerti sampai disitu.
Kamu tahu, hatiku seperti sebuah rumah. Dari luar kamu akan melihat sebuah pagar. Pagar itu terbuka saat aku mengenalmu. Saat aku berjabatan tangan denganmu. Saat aku dan kamu menyebutkan nama kita masing-masing. Mari masuk, masuk ke halamanku yang sangat luas, bergabung dengan banyak orang disana.

Dan perlahan kamu mulai duduk disana, di bangku terasku. Itulah saat kita berbincang mengenai banyak hal. Namun bukan tentang kita, tapi tentang jalan yang bisa kita lihat dari teras rumah. Tentang dunia, bukan tentang aku, kamu apalagi kita…

Tapi aku tak pernah menyangka, pada akhirnya kamu mengetuk pintu rumahku, berharap untuk dipersilahkan masuk. Kamu tahu? Kata ibuku, “Jangan pernah membiarkan orang asing masuk ke dalam rumah“. Tapi kamu bukan orang asing, aku mengenalmu, walau aku belum memahamimu sepenuhnya.

Aku biarkan pintu rumahku tetap terkunci. Membuatku merasa aman. Sementara aku mengintip kamu dari daun jendela. Memperhatikan gerak gerik mu. Tanganku mulai menggenggam kunci yang sedari tadi tergantung di pintu. Sementara mataku terus menatap ke arahmu. Memperhatikanmu dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Lama kubiarkan pintuku terkunci dan tertutup rapat. Tapi kamu tetap disitu, tak pernah lelah mengetuk. Kadang kamu terlihat lelah dan kemudian duduk di teras rumahku. Tapi kamu selalu kembali mengetuk pintu. Hingga saat itu, kamu menyelipkan sepucuk kertas dari bawah pintu. Hanya satu kalimat “Bolehkah aku masuk?“.

Kali ini kubuka pintu rumahku. Aku persilahkan kamu masuk dan duduk di ruang tamuku. Kubiarkan matamu menyapu seluruh ruangan, sampai mata itu kembali memperhatikan aku. Kita bicara, kali ini tentang aku, kamu dan kita…
Sampai tiba-tiba kamu berkata bahwa kamu harus pergi. Aku terdiam. Perlahan kurasakan debu mulai memasuki rumah karena pintunya kubiarkan terbuka… Debu yang juga mulai memasuki mataku, membuatku harus menyeka air mata yang jatuh. Sakit… Debu-debu itu menyakitiku… Dan saat kubuka mataku, kamu telah menghilang. Dan lagi-lagi aku hanya bisa terdiam.

Sekarang, aku masih disini, duduk di ruang tamu. Sendirian. Dengan seribu pertanyaan menggelayut dipikiranku. “Kenapa kamu harus pergi?” “Kenapa aku bisa sangat menikmati pembicaraan kita berdua?” “Kenapa tadi kubiarkan kamu masuk?” dan…
Kenapa kamu harus mengetuk pintu rumahku jika ternyata kamu harus pergi?

Seperti itulah hatiku.
Hingga saat ini hatiku masih seperti rumah. Namun kali ini dengan pintu yang selalu terbuka. Aku membiarkannya terbuka untukmu jika suatu saat nanti kamu kembali dari perjalananmu. Jika suatu saat nanti, kamu mencari jalan untuk pulang, aku akan membiarkan pintu rumahku terbuka, agar kamu dapat menyebut rumahku sebagai rumahmu. Agar hatimu selalu pulang menuju hatiku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: