Where Is My Happy Ending?

8 Jan

Waktu kecil, saya selalu memimpikan punya gaun mewah, mahkota berkelip, pergi ke pesta dansa dan bertemu pangeran berkuda putih. Sebuah konsekuensi hidup di zaman Disney, dimana semua dongeng (yang divisualisasikan dalam film kartun) selalu berakhir dengan happy ending. Aaaaahh, saya terlena dibuatnya…

Tapi kok setelah saya segede ini, saya seperti ditampar. Banyak hal yang gak berakhir dengan happy ending. Mau protes rasanya, kenapa cerita-cerita dongeng itu kok berbeda sama kehidupan kita sehari-hari. Saya dibuat berharap terlalu banyak sama kehidupan yang ada di dunia dongeng, tapi begitu saya dilempar ke dalam dunia nyata, saya malah kocar-kacir. Ternyata dunia tak seindah dalam film kartun… *tsaaahhh*

Awalnya saya udah bersiap-siap untuk berangkat demo ke kantor Disney (yang entah ada dimana :p), tapi kemudian saya urungkan niat saya. Saya pikir-pikir, gak ada yang salah kok dengan happy ending, gak ada yang salah dengan cerita dongeng yang selama ini dibuat oleh Disney. Lah wong mereka cuman pengen bikin penontonnya seneng kok *haha*.

And you know what?! Ternyata mereka justru banyak mengajarkan kepada kita tentang suatu harapan. Bahwa ada hal baik di antara hal buruk, ada sekeping emas diantara butir-butir pasir, dan pastinya ada pelangi setelah hujan. Coba perhatiin Cinderella, dicaci maki ibu tiri, dimanfaatkan kakak-kakak tirinya, jadi pembantu di rumah sendiri, tapi toh akhirnya dia menemukan kebahagiaannya sendiri.

Dulu, Cinderella pasti gak pernah menyangka kalo dia bakal menikah dengan seorang pangeran. Manaaaa pernah kepikiran coba?! Mungkin yang ada di pikiran dia cuma gimana caranya biar Ibu tirinya gak marah-marah, gimana caranya mencuci pakaian kakak-kakak tirinya dengan baik dan hal remeh temeh lainnya. Eh, tapi tak disangka tak diduga, dia justru dapet hal yang sangat sangat sangat baik.

Mungkin hidup kita kelihatan ruwet sekarang, mau dibenerin berasa susah banget. Belum lagi ditambah melihat rumput tetangga yang ‘kelihatannya’ lebih hijau, rasanya pengen ambil tali dan kemudian maen tarik tambang *loh*. Tapi percaya deh, rencana Tuhan pasti baik, pasti indah, walau kita belum bisa melihat ujungnya sekarang.

Anggap aja Tuhan sedang bermain layangan. Tuhan terkadang menarik dan mengulur benang kita, supaya kita bisa terbang tinggi. Ditarik dan dilulur, bahkan kadang2 sampe benangnya kusut. Tapi semua itu Tuhan lakukan supaya kita bisa terbang dengan tinggi dan ‘seimbang’.

SO, CHEER UP EPERIBADEH!!!

there’s always a rainbow after the rain

*sambil nari2 di tengah ujan*

2 Responses to “Where Is My Happy Ending?”

  1. Indri January 12, 2010 at 12:37 am #

    sepertinya ini bisa menjawab blog ku hahaha…

    nice post mbak Q!

  2. kikidanobsesinya January 12, 2010 at 3:11 am #

    hehehe, kalo begitu mari kita menari di tengah hujaaaaannn
    *ngambil payung sama jas hujan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: