Biarkan semua seperti seharusnya…

2 Jan

*sigh*

Saya terdiam beberapa saat

Kemudian berkata, “Hah! Selesai sudah! Biarin aja semua seperti seharusny, biarin semuanya berlangsung seperti apa adanya sekarang. Berarti gw gak perlu ngapa2in lg. Yeah!!!”

Tapi… kemudian saya berpikir kembali

“Apakah ini arti biarkan semua seperti seharusny? Diam dan tidak melakukan apa2?”

Entah mengapa tiba2 ada suara berbisik kepada saya *Bukan! Tenang saja, ini bukan cerita horror atau mistis*, suara itu berkata pada saya “Bukan seperti itu artinya”.

Saya kemudian terbangun dari posisi saya yang kebetulan saat itu sedang tidur. Saya duduk dan kemudian berpikir panjang dan lagi2 terdiam sambil sesekali terlintas dalam pikiran saya “Kenapa sih gw harus mikirin hal yang abstrak kaya gini? Mending mikirin hal laen yg lebih kongkrit”.

Tiba2 muncul lagi dalam pikiran saya, sebuah jawaban sederhana yang saya pikir semua orang juga sudah tahu.

Biarkan semua seperti seharusnya…

Dan seharusnya kita semua berusaha—untuk apapun itu—, bukanny diam dan menyerah pada smua yang terjadi.

-mulai dari titik ini sampai ke bawah, mungkin tulisan saya akan melebar2 ke topik2 lain yg mungkin tidak berhubungan dengan topik saya pada paragraf sebelumnya, tapi tolong ijinkan saya menulis apapun yg ingin saya tulis =D-

Saya lagi2 terdiam ketika saya mengetikkan sebuah kata “BERUSAHA”. Saya bertanya lagi pada diri saya sendiri, “pernahkah saya benar2 berusaha sepanjang hidup saya?”

Usaha saya artikan sebagai sebuah proses, proses yg sangat panjang tepatny, dan proses itu tidak pernah akan pernah berakir, sampai kita benar2 menghilang dari dunia ini.

Dan yang seringkali saya lupakan adalah saya selalu LUPA atau mungkin justru sengaja melupakan bahwa USAHA itu adalah PROSES dan BUKAN HASIL. Akibatnya ketika hasil yang saya peroleh tidak sesuai dengan yang saya harapkan, maka saya akan memasuki fase tidak produktif kembali dalam hidup saya. Diam dan tidak lagi berusaha.

Saya tahu bahwa saya tidak boleh diam, tapi ternyata tahu (mengetahui) bukan jaminan. Saya tahu tetapi ternyata saya TIDAK MELAKSANAKANNY. Itu yg paling buruk… *tiba2 berasa nyesek*

Lagi-lagi saya terdiam tapi kemudian tersenyum.

Pertanyaanny, “kenapa saya tersenyum?”

Dan jawabanny adalah, “Karena saya punya banyak teman yg—terus-menerus—membantu saya, mengingatkan bahwa saya tidak melakukan sesuatu—TIDAK MELAKUKAN SESUATU YG BAHKAN SAYA SADARI ATAU SAYA KETAHUI—. Dan akhirnya teman2 lah yang mendorong saya untuk melakukan hal tersebut”

Tiba2 saya diam lagi

Saya diam untuk kesekian kaliny dan menyadari bahwa saya telah banyak menuntut orang untuk memahami saya. Mereka terus berusaha memahami saya, meningatkan dan mendorong saya untuk melakukan banyak hal. Tapi pernahkah saya berusaha memahami orang lain (dalam hal ini teman2 saya)? Padahal saya sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa SAYA HARUS BERUSAHA MEMAHAMI ORANG LAIN SEBELUM MEMINTA ORANG LAIN MEMAHAMI SAYA.

Teman… Kawan… (saya tidak tahu mana istilah yg lebih tepat)

Ternyata memahami orang lain itu bukan perkara mudah—dan saya bangga pada kalian, karena kalian begitu memahami saya—. Memahami orang lain bukan hanya sekedar melihat tingkah laku orang tersebut tapi lebih kepada MENYELAMI APA YANG ADA DI DALAM ORANG TERSEBUT. Dan ternyata itu sangat sulit.

Satu hal lagi yang saya sadari, ketika kita berusaha untuk memahami orang lain, itu BUKAN BERARTI KITA MEMAKSA ORANG TERSEBUT MENGELUARKAN SEMUA YG IA RASAKAN. Karena ada kalany, yang di dalam ternyata tidak bisa dikeluarkan. Memahami orang lain adalah ketika kita mencemplungkan diri ke dalam orang tersebut, walaupun ia tidak secara eksplisit menyampaikan apa yg ia rasakan.

Saya terdiam kembali, tapi kali ini karena saya tidak tahu harus menulis apa lagi *hahahaha*

Satu hal yang pasti…

Kau takkan hilang dan takkan pernah hilang

Selalu ada dan selalu hadir…

=)

*NB : maaph tulisanny loncat2 kaya kutu, karena ternyata saat ini gw agak ribet menuangkan pikiran gw dalem tulisan. Kacau kaya benang kusut. hehe

4 Responses to “Biarkan semua seperti seharusnya…”

  1. Yan-yan dan obsesinya January 2, 2009 at 6:06 pm #

    hebat..
    dan anda sudah tau itu…
    “PROSES”
    ayo kita jalani bersama berdua ki.. dengan niat yang benar tentunya..
    mengharap ridho Alloh.
    sehingga jika PROSES itu gagal.. maka kita tidak akan kecewa (berada dalam “fase yg tidak produktif”)

  2. kikidanobsesinya January 3, 2009 at 3:12 am #

    Jiahahahaha. jalani berdua? *aih mamiiiii*

    Ayo yan, makany bantuin gw kerjain skripsi yah? hehehehe

  3. Yan-yan dan obsesinya January 5, 2009 at 2:18 pm #

    oh lagi sibuk ngerjain skripsi ya?
    sampe ga mau nemuin gw di bks square..
    pdhal mau gw ajak nonton..
    huhh

  4. kikidanobsesinya January 5, 2009 at 4:31 pm #

    bukan gk mau nemuin yaaaannn, tp gk bisa.
    jd tahanan rumah… huhu

    mw nonton?
    y udah, laen kali yah? oke? oke?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: